MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH

Friday, May 11, 2007

Peran Akal, Rasa, dan Informasi


Keunikan sekaligus keunggulan utama manusia dari mahluk lain adalah rasionalitasnya. Akalnya membuatnya mampu memilah, menghubungkan, dan mengkodifikasi pengetahuannya ke dalam ilmu.

Kemampuan potensial dan aktual akal manusia tidak sama satu dengan lainnya. Perbedaan ini terkadang merupakan pembawaan sejak lahir, ada yang memiliki bakat intelegensi luar biasa, dan ada yang sulit berkonsentrasi dan menangkap informasi dari luar. Lebih sering perbedaan kemampuan akal terjadi karena perbedaan upaya untuk mengoptimalkan penggunaan akal.

Seorang dalam mengambil keputusan menggunakan akal dan rasa. Akal menimbang benar-salah dan baik-buruk. Rasa menimbang suka-benci dan semangat-malas. Saat-saat tertentu akal dan rasa berjalan seiring, namun saat lainnya keduanya berseberangan.

Akal memerlukan informasi sebagai bahan yang diolah menjadi kesimpulan. Informasi ini bisa datang dari imaginasi, berita benar, berita palsu, pengamatan, firman Tuhan, dll. Informasi tersebut dapat diperingkat menurut kadar keterpercayaannya.

1. Firman Tuhan
2. Pengamatan (dari ayat-ayat kauniyah: manusia dan alam semesta)
3. Berita benar
4. Berita palsu
5. Imaginasi

Walaupun firman Tuhan dan alam semesta sama merupakan ayat Alloh, namun firman Tuhan lebih terdefinisi dan lebih mudah dicerna akal daripada ayat kauniyah karena sudah dalam wujud kata-kata. Walaupun masih terdapat kemungkinan tafsir yang beragam atas kata-kata tersebut, namun tafsir tersebut dibatasi oleh makna ayat. Karena tidak bisa dikatakan sebagai tafsir ketika bertentangan dengan makna harfiah ayat. (baca juga di blog ini: Al-Quran tidak multitafsir)

Sebaliknya, pengamatan manusia terbatasi oleh banyak hal. Ada hal-hal yang tidak bisa diindera oleh manusia, bisa jadi karena sangat kecil, sangat besar, dibiaskan oleh interferensi sebelum sampai ke indera, dll. Studi cross-section tidak akan mampu mencakup seluruh alam semesta ini , dan studi time-series tidak akan mampu mencakup seluruh sejarah dan masa depan umat manusia. Karenanya, bila hanya menyandarkan pada pengamatan ayat kauniyah, kemungkinan besar perbedaan pendapat di antara manusia tidak akan pernah selesai.

Berbeda dengan ayat kauliyah yang masih terjangkau oleh manusia. Al-Quran "hanya" 30 juz, yang bisa dibaca hingga selesai dalam waktu satu hari. Hadits-hadits Rosululloh masih bisa diakses dengan mudah, apalagi dengan adanya software yang memudahkan kita untuk mencari hadits2 dengan topik tertentu. Mencapai kesepakatan jauh lebih mudah apabila kita bersandar pada firman Alloh 'Azza wa Jalla.

Otentisitas Al-Quran tidak bisa dibantah. Tidak ada kitab agama lampau yang lebih kuat bukti-bukti otentisitasnya dibanding Al-Quran. Hadits-hadits shahih pun sudah melalui penyeleksian yang sangat kuat. Tidak ada manusia yang kata-katanya direkam begitu banyak dan diteruskan melalui jalur yang jelas dan periwayat yang sangat jelas asal-usulnya sebagaimana Rosululloh Muhammad s.a.w.

Metode periwayatan hadits ini dapat kita terapkan untuk menyeleksi berita-berita yang ada sekarang ini untuk menguji kebenarannya. Sehingga kita tidak mengambil penilaian dan keputusan atas dasar informasi yang tidak akurat.

Hal yang paling lemah sebagai dasar keputusan adalah imaginasi. Tidak ada manusia berakal sehat yang membenarkan suatu dakwaan atas dasar imaginasi. Namun terkadang para pemikir terjerumus ke jebakan imaginasinya. Menyeleksi mana di antara pemikiran yang merupakan buah nalar dan informasi yang shahih dan mana yang sekedar imaginasi dan dugaan adalah tugas para intelektual/'ulama.