Ada dua kondisi orang yang mengatakan bahwa dirinya yakin atas sesuatu: memiliki alasan dan tanpa alasan. Apakah keduanya dibenarkan? Untuk menilainya, kita bisa melihat dari konsekuensinya.
Sebagai ilustrasi, bagaimana jadinya bila seseorang menuduh tetangganya sebagai pelaku pencurian televisi miliknya tanpa alasan. Penilaian cepat terhadap perilaku tersebut adalah sang penuduh telah melakukan fitnah. Orang lain tidak akan mempercayainya karena tidak ada alasan sama sekali. Lalu mengapa si penuduh bisa meyakini bahwa tetangganya-lah yang mencuri tv miliknya? Bisa jadi keyakinan tersebut adalah karena kebencian dan prasangka buruk yang amat kuat terhadap tetangganya.
Tentu lain halnya dengan cerita komik detektif Conan yang mampu mengungkap pelaku dari kejahatan dengan bukti dan penjelasan bagaimana bukti tersebut menunjukkan bahwa orang yang dituduh oleh Conan itulah pelaku sebenarnya. Semua orang dapat menerima tuduhan tersebut karena alasan yang dikemukakan Conan sangat masuk akal, didukung dengan bukti yang kuat, dan orang yang dituduh gagal menunjukkan bukti dan penjelasan yang menjadi alibinya.
Pertengahan di antara dua kondisi itu adalah pernyataan yang didukung oleh bukti dan penjelasan, tetapi bukti diragukan kebenarannya atau penjelasan tidak mampu menunjukkan keterkaitan bukti dengan apa yang dinyatakan. Kondisi ini lebih baik daripada kondisi keyakinan tanpa alasan, namun masih belum cukup karena dukungannya tidak kuat.
Keyakinan yang tak beralasan, atau hanya memiliki alasan yang lemah, atau alasannya telah tertolak oleh bukti dan penjelasan yang bertentangan, tidak bisa dijadikan landasan sikap baik untuk individu maupun masyarakat.
Namun seringkali ada orang yang tetap bertahan pada pendapat/keyakinannya walaupun telah jelas kelemahan alasannyanya atau hanya berdasar pada alasan "pokoknya". Orang seperti ini yang disebut dengan orang yang keras kepala.
Rosululloh s.a.w. mendefinisikan orang yang sombong sebagai orang yang menolak kebenaran. Dan orang disebut kafir apabila ia telah mendapatkan seruan kepada kebenaran dan telah jelas baginya kesalahan dirinya, namun tetap menolak untuk tunduk kepada kebenaran tersebut.
No comments:
Post a Comment