MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH

Friday, May 11, 2007

Muna dan Be Yourself: Kerancuan Istilah

Ada 2 pengertian yang salah kaprah dan menjadi penghambat seseorang untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.

1. Munafik

Banyak yang mengartikan ini sebagai orang yang sukanya ja-im padahal aslinya ga seperti itu. Apabila orang kelihatan sok suci, nganjurin orang ini-itu, tapi di kala lain dia ketahuan belangnya, melanggar apa yang selama ini dia katakan, ga konsisten.

Aq setuju kalau pelanggaran terhadap apa yang dikatakan adalah hal buruk. Tapi bukan berarti orang yang melakukannya munafik. Setiap manusia, sebaik apapun dia, pasti pernah melanggar prinsipnya, pernah melakukan dosa. Beda orang baik dan buruk hanyalah pada frekuensinya melakukan kejelekan, orang baik lebih jarang melakukannya daripada orang buruk.

Sama seperti orang pintar adalah orang yang lebih jarang melakukan kesalahan daripada orang yang bodoh. Tidak ada orang pintar yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang baik yang tidak pernah melakukan keburukan.

Jadi jangan memvonis munafik pada orang yang sudah banyak melakukan kebaikan dan mengecam suatu keburukan namun di saat-saat tertentu ia melakukan hal sebaliknya.

Banyak orang bertahan dengan keburukannya karena ia menganggap dirinya memang seperti itu. Bila ia tidak melakukannya ia merasa menjadi munafik.

Pun bila ada orang yang tidak melakukan satu keburukan di depan umum, namun melakukannya di saat sendiri, itu memang lebih baik karena ia masih memiliki rasa malu dan orang lain tercegah dari menirunya atau menggunjingkannya. Orang yang tidak malu lagi melakukan keburukan di depan orang lain kemungkinan untuk tobatnya lebih sulit. Dan dampaknya untuk masyarakat lebih buruk, karena bisa jadi ada orang lain yang meniru keburukannya.

2. Be Yourself

Hampir sama dengan kasus munafik. Orang mengatakan "Aku ini memang seperti ini, suka maupun tidak".

Ketika mengatakan seperti ini, ia telah menutup kemungkinan bahwa dirinya bisa berubah. Dan ia sama sekali tidak bermotivasi untuk memperbaiki dirinya.

Manusia diciptakan berbeda dari sisi lahiriah, namun secara batin tiap manusia punya potensi sama. Benar kalau seseorang mengatakan "Rambutku memang kriting", "Hidungku memang pesek", "Tubuhku memang pendek". Tapi tidak benar ketika ia mengatakan "Aku memang pemalas", "aku memang pemarah", "aku memang pendendam", "aku memang tidak sopan", "aku memang tidak rapi".

Yang harus kita pahami ketika kita merasa sulit merubah diri kita adalah proses pembentukan karakter kita telah bertahun-tahun, mungkin sejak bayi karena pengaruh dari keluarga. Untuk merubahnya tentunya perlu waktu bertahun-tahun pula.

Jadi sabarlah, dan pantang menyerah untuk mengevolusi karakter (akhlaq) diri.

No comments: