Tujuan penyampaian materi khittoh bukanlah keseragaman pemikiran, tetapi mengenalkan bagaimana sistem keyakinan, sistem ilmu pengetahuan, dan sistem sosial terbentuk, dan bagaimana masing-masing diri menilai, memilih, dan membentuk sistem tersebut.
Dekonstruksi perlu untuk menyadarkan kader bahwa dasar keyakinan mereka lemah. Tetapi mengetahui ketidaktahuan baru langkah awal menuju pengetahuan. Berikutnya adalah proses akuisisi pengetahuan itu sendiri. Idealnya, semua orang melakukan proses akuisisi tersebut sendiri. Namun kenyataannya, banyak di antara kita yang terhenti prosesnya karena diri tidak menikmati proses tersebut dan larut dalam aktivitas keseharian.
Oleh karena itu saya lebih memilih metode rekonstruksi, yakni menunjukkan kepada audiens bagaimana struktur keyakinan mereka dibentuk dan bagaimana percabangan-percabangan antar keyakinan di dunia. Sembari itu, saya menunjukkan apa pilihan yang saya ambil pada tiap percabangan tersebut dan argumentasi saya dalam pilihan tersebut. Audiens boleh tidak setuju dengan pilihan dan argumen saya, bisa juga mereka mengkritik argumen saya yang lemah.
Diharapkan dengan metode rekonstruksi ini, audiens memiliki dasar keyakinan yang kuat, dengan tetap memiliki gambaran pola yang jelas bagaimana cara mereka mengulangi proses rekonstruksi tersebut sendiri bila mereka masih belum puas dan tidak setuju dengan jawaban yang diberikan pemateri.
Sistematika penyampaian materi Keyakinan Muslim
- Perlukah keyakinan memiliki dasar?
- Dua dasar keyakinan: ilmu vs dzan
- Kebenaran: absolut vs relatif
- Peta keyakinan umat manusia: penciptaan, kerasulan, periwayatan, penafsiran, dan kontekstualisasi tafsir
- Argumen adanya Pencipta Alam Semesta
- Argumen kerasulan Muhammad
- Argumen Al-Quran sebagai firman
- Keaslian Qur’an dan Hadits vs kitab-kitab agama lain
- Menilai agama dan keyakinan baru
- Metode tafsir
- Al-Quran universal vs lokal dan terbatas waktu
- Tafsir teratur vs tafsir bebas
- Mengakui satu pemahaman vs pluralisme
- Keresahan-keresahan teologis, misal: orang kafir yang baik secara sosial, orang kafir yang tidak mengenal Islam (yang sebenarnya), rahmat – keadilan – azab, kuasa – ampunan – menepati janji, dll
No comments:
Post a Comment