MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH

Saturday, June 09, 2007

Selain Islam Masuk Surga?

Sekelompok orang berpendapat bahwa surat Al-Maidah ayat 69 merupakan dalil bahwa penganut agama selain Islam dapat masuk surga bila mereka beramal shalih. Berikut saya kutipkan penjelasan Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diambil dari situs www.al-manhaj.or.id

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Allah I berfirman di dalam Al-Qur'an surat Al-Imran : 85

"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima"

Sementara dalam surat Al-Maidah : 69 disebutkan.

"Artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, dan orang-rang Nasrani apabila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih, maka tidak ada ketakutan dan kesedihan yang akan menimpa mereka"

Bagaimana caranya kita memahami dua ayat yang seolah-olah bertentangan ini ?

Jawaban.
Tak ada pertentangan antara dua ayat tersebut. Ayat pertama Ali Imran : 85 berlaku bagi kaum yang telah sampai da'wah Islam kepada mereka, sedangkan ayat kedua Al-Ma'idah : 69 berlaku bagi kaum yang hidup pada zaman mereka masing-masing (dengan cara mengikuti syari'at dari nabi/rasul mereka masing-masing, -pent-).


Adapun tentang shabi'in (shabi'ah) yang dikenal selama ini sebagai penyembah bintang, sebetulnya mereka dulunya adalah orang-orang yang bertauhid (dan mengikuti syari'at sebagian para rasul, -pent), akan tetapi setelah lewat masa yang panjang, sedikit demi sedikit mereka terjatuh ke dalam kemusyrikan dan akhirnya mereka menyembah bintang. Hal ini sama saja dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hari ini juga semuanya sudah terjatuh dalam kemusyrikan.

Nah... siapapun diantara mereka (shabi'ah, Yahudi , Nasrani) yang berpegang teguh dengan agamanya masing-masing dan mereka hidup sebelum datangnya Islam, maka mereka tidak akan ditimpa ketakutan dan kesedihan. Dan mereka adalah termasuk orang-orang yang beriman. Akan tetapi, setelah Allah I mengutus Nabi Muhammad r dan dakwah Islam telah sampai kepada mereka, maka Allah tidak akan menerima agama mereka sebelum mereka masuk Islam.

Saat ini... ada satu masalah yang sangat besar yang menimpa sebagian kaum muslimin, yaitu orang-orang yang mengira bahwa mereka telah memeluk agama Islam dan telah menjalankan syari'at Islam tetapi sebenarnya mereka telah keluar dari Islam dan telah jatuh dalam kekafiran karena aqidah dan keyakinan mereka telah sesat dan menyimpang, sehingga membatalkan ke-Islam-an mereka. Mereka itu adalah kelompok Islam 'Ahamdiyah Qodiyan' yang berkeyakinan bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad r.

Mereka ini sudah tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sudah disebutkan dalam surat Al-Maidah : 69 di atas, karena hujjah sudah tegak di hadapan mereka. Apabila mereka mengaku sebagai muslim, tentu mereka telah membaca/mendengar dari Al-Qur'an dan hadits tentang bagaimana prinsip-prinsip aqidah Islam.

Adapun orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar dakwah Islam, maka orang seperti ini tidak akan langsung divonis masuk neraka oleh Allah I.

Orang yang meninggal dalam keadaan belum pernah mendengar dakwah Islam sama sekali akan mendapat perlakuan khusus dari Allah di akhirat dengan mengutus seorang rasul kepada mereka. orang-orang ini akan diuji oleh Allah lewat rasul tersebut, seperti Allah telah menguji manusia di dunia. Apabila orang-orang tersebut menyambut seruan rasul dan mentaatinya maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. Jika tidak, maka dia akan masuk neraka. [Ash-Shahihah No. 2468]

[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]


Baca selengkapnya..

Ideologi Melawan Agama

Ideologi merupakan seperangkat cara pandang dan keyakinan atas suatu permasalahan. Cara pandang dan keyakinan tersebut diturunkan secara deduktif dari agama dan filsafat, maupun secara induktif berupa hasil perenungan atas masalah tersebut.

Ideologi memiliki ciri penganutnya memiliki keyakinan yang kuat atas kebenaran ideologi tersebut. Oleh karena itu, penganut ideologi sering melihat keyakinan lain sebagai "musuh" bagi ideologi tersebut. Karena agama merupakan bentuk keyakinan yang kuat dan memiliki pengikut terbesar, maka agama kerapkali dijadikan musuh ideologi.

Perlawanan ideologi terhadap agama dilakukan dengan beberapa cara:

1. Menjauhkan manusia dari agama
Ini adalah perlawanan yang paling frontal ideologi terhadap agama. Komunisme pernah melakukannya dengan ungkapannya "agama itu candu". Penganut komunisme sangat memusuhi pemimpin-pemimpin agama dan berusaha menjauhkan pengikut komunisme dari agama.

Demikian pula, liberalisme, modernisme, dan sekularisme di Barat telah menjauhkan orang-orang dari agama. Agama dianggap tradisi yang bertentangan dengan semangat modernisme. Agama adalah keyakinan yang mengikat pemeluknya dari berpikir bebas dan bereksperimentasi yang merupakan sumber kemajuan. Agama yang menjadi hukum negara mendorong terjadinya diskriminasi dan absolutisme penguasa.

2. Merubah agama
Ketika di zaman modern banyak orang mengalami kegersangan dan kehilangan makna hidup, kembali ke jalan agama menjadi tren di seluruh belahan dunia. Mereka yang berusaha menghidupkan kembali agama disebut oleh pemikir Barat sebagai kaum revivalis dan fundamentalis.

Karena tren ini tidak bisa dielakkan, maka para ideolog merubah strategi perlawanan dari frontal menjadi kooperatif. Kini para ideolog berusaha menyusupkan pemikiran mereka ke dalam agama. Tafsir atas teks-teks agama perlu "disesuaikan" agar bisa menampung nilai-nilai dalam ideologi mereka. Maka muncullah tafsir-tafsir baru dalam agama yang telah disesuaikan dengan ideologi-ideologi tersebut.

Tafsir-tafsir baru dalam Islam dikenal antara lain adalah
- Islam Liberal: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut liberalisme
- Islam Feminis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut feminisme
- Sosialisme Islam: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut sosialis
- Islam Demokratis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut demokrasi

Cara penafsiran yang dilakukan oleh penganut ideologi-ideologi tersebut memiliki ciri tafsir parsial, yakni pemilihan ayat-ayat atau hadits yang sesuai dengan ideologi mereka. Dalam mengembangkan tafsir ideologis tersebut, para penganjurnya senantiasa membahas ayat dan hadits yang cocok dengan ideologi mereka.

Sementara, ayat dan hadits yang bertentangan dengan ideologi mereka tidak pernah mereka singgung sama sekali. Ketika ditanyakan pada mereka mengenai ayat dan hadits yang tidak sejalan tersebut, mereka biasanya mengatakan bahwa ayat dan hadits tersebut sudah tidak relevan dengan konteks zaman sekarang.

Ciri kedua adalah mereka menamakan tafsir mereka sebagai tafsir rasional, yang tidak lain adalah tafsir yang mengedepankan akal dibanding wahyu. Tafsir rasional ini, sebagaimana di nyatakan Ulil, apabila menghadapi pertentangan wahyu dengan akal, maka wahyu tersebut harus ditakwil.

(Penulis blog ini menyangsikan apa yang dimaksud dengan takwil ini. Bagaimana mungkin suatu pernyataan dalam wahyu bisa ditakwil sedemikian rupa sehingga hasil takwilnya bisa bertentangan dengan makna harafiah pernyataan tersebut? Takwil dan tafsir berusaha menjelaskan maksud dari suatu pernyataan tertulis maupun lisan. Suatu penjelasan TIDAK MUNGKIN bertentangan dengan makna harafiah pernyataan yang dijelaskan.)

Baca selengkapnya..