Ideologi merupakan seperangkat cara pandang dan keyakinan atas suatu permasalahan. Cara pandang dan keyakinan tersebut diturunkan secara deduktif dari agama dan filsafat, maupun secara induktif berupa hasil perenungan atas masalah tersebut.
Ideologi memiliki ciri penganutnya memiliki keyakinan yang kuat atas kebenaran ideologi tersebut. Oleh karena itu, penganut ideologi sering melihat keyakinan lain sebagai "musuh" bagi ideologi tersebut. Karena agama merupakan bentuk keyakinan yang kuat dan memiliki pengikut terbesar, maka agama kerapkali dijadikan musuh ideologi.
Perlawanan ideologi terhadap agama dilakukan dengan beberapa cara:
1. Menjauhkan manusia dari agama
Ini adalah perlawanan yang paling frontal ideologi terhadap agama. Komunisme pernah melakukannya dengan ungkapannya "agama itu candu". Penganut komunisme sangat memusuhi pemimpin-pemimpin agama dan berusaha menjauhkan pengikut komunisme dari agama.
Demikian pula, liberalisme, modernisme, dan sekularisme di Barat telah menjauhkan orang-orang dari agama. Agama dianggap tradisi yang bertentangan dengan semangat modernisme. Agama adalah keyakinan yang mengikat pemeluknya dari berpikir bebas dan bereksperimentasi yang merupakan sumber kemajuan. Agama yang menjadi hukum negara mendorong terjadinya diskriminasi dan absolutisme penguasa.
2. Merubah agama
Ketika di zaman modern banyak orang mengalami kegersangan dan kehilangan makna hidup, kembali ke jalan agama menjadi tren di seluruh belahan dunia. Mereka yang berusaha menghidupkan kembali agama disebut oleh pemikir Barat sebagai kaum revivalis dan fundamentalis.
Karena tren ini tidak bisa dielakkan, maka para ideolog merubah strategi perlawanan dari frontal menjadi kooperatif. Kini para ideolog berusaha menyusupkan pemikiran mereka ke dalam agama. Tafsir atas teks-teks agama perlu "disesuaikan" agar bisa menampung nilai-nilai dalam ideologi mereka. Maka muncullah tafsir-tafsir baru dalam agama yang telah disesuaikan dengan ideologi-ideologi tersebut.
Tafsir-tafsir baru dalam Islam dikenal antara lain adalah
- Islam Liberal: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut liberalisme
- Islam Feminis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut feminisme
- Sosialisme Islam: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut sosialis
- Islam Demokratis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut demokrasi
Cara penafsiran yang dilakukan oleh penganut ideologi-ideologi tersebut memiliki ciri tafsir parsial, yakni pemilihan ayat-ayat atau hadits yang sesuai dengan ideologi mereka. Dalam mengembangkan tafsir ideologis tersebut, para penganjurnya senantiasa membahas ayat dan hadits yang cocok dengan ideologi mereka.
Sementara, ayat dan hadits yang bertentangan dengan ideologi mereka tidak pernah mereka singgung sama sekali. Ketika ditanyakan pada mereka mengenai ayat dan hadits yang tidak sejalan tersebut, mereka biasanya mengatakan bahwa ayat dan hadits tersebut sudah tidak relevan dengan konteks zaman sekarang.
Ciri kedua adalah mereka menamakan tafsir mereka sebagai tafsir rasional, yang tidak lain adalah tafsir yang mengedepankan akal dibanding wahyu. Tafsir rasional ini, sebagaimana di nyatakan Ulil, apabila menghadapi pertentangan wahyu dengan akal, maka wahyu tersebut harus ditakwil.
(Penulis blog ini menyangsikan apa yang dimaksud dengan takwil ini. Bagaimana mungkin suatu pernyataan dalam wahyu bisa ditakwil sedemikian rupa sehingga hasil takwilnya bisa bertentangan dengan makna harafiah pernyataan tersebut? Takwil dan tafsir berusaha menjelaskan maksud dari suatu pernyataan tertulis maupun lisan. Suatu penjelasan TIDAK MUNGKIN bertentangan dengan makna harafiah pernyataan yang dijelaskan.)
MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH
Saturday, June 09, 2007
Ideologi Melawan Agama
Label: Wawasan Sosial
No comments:
Post a Comment