MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH

Sunday, May 27, 2007

Studi Kritis Metode Penafsiran Islam Liberal (1)

Mulai saat ini, saya berencana melakukan studi kritis terhadap metode penafsiran Islam Liberal. Hipotesis saya adalah metode penafsiran Islam Liberal adalah kabur dan atau tidak konsisten. Dengan ungkapan yang lebih ekstrim, Islam Liberal tidak memiliki metodologi. Yang dimiliki oleh Islam Liberal hanyalah "keyakinan" terhadap beberapa pokok yang tidak memiliki dasar argumentasi kuat.



Keyakinan-keyakinan dasar Islam Liberal terdapat pada website mereka http://islamlib.com/id/tentangkami.php yang dicuplik berikut ini. Pada tulisan ini, saya hanya akan memberikan komentar singkat (tulisan berwarna dan miring) terhadap keyakinan yang mereka jelaskan. Pada tulisan-tulisan berikutnya, saya akan membahas secara lebih rinci poin-poin keyakinan itu, dengan contoh-contoh tulisan dari anggota Islam Liberal yang menjelaskan poin keyakinan tersebut.

----------------------

1. Apa itu Islam liberal?

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

aksioma-aksioma (akidah) yang menjadi landasan ini apa sumbernya?

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

Bila yang dimaksud dengan "tidak berijtihad" oleh Islib ini adalah hukum yang telah berlaku sejak generasi awal umat Islam (Islib menyebutnya sebagai Islam konservatif), maka kenyataannya hingga sekarang Islam konservatif masih bertahan tanpa "ijtihad" yang dilakukan oleh Islib ini. Jadi, tidak perlu "ijtihad ala Islib" agar Islam mampu bertahan di segala cuaca.

Apa yang dimaksud rasional di sini? Semua orang memakai rasio-nya dalam berijtihad. Namun ada yang rasio-nya keliru dan ada yang tepat.

Seluas apa ijtihad yang dimaksud? Apakah ijtihad boleh bertentangan dengan makna harafiah teks sumber hukum Islam: Quran dan Hadits?

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur'an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

Ini kaidah tafsir yang umum dipakai. Namun apakah bisa dikatakan sebagai tafsir apabila bertentangan dengan makna literal teks? Pernyataan A yang bertentangan dengan pernyataan B tidak mungkin merupakan penjelasan (tafsir) atas pernyataan B tersebut.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

Kemungkinan bukan hanya terdiri dari angka 0 dan 1, ada kisaran rendah ke tinggi. Jadi ada tafsir yang 0% kemungkinan benarnya dan ada yang 99% kemungkinan benarnya. Tafsir yang bertentangan dengan makna literal pernyataan yang ditafsirkan 0% kemungkinan benarnya.

Penafsir yang membawa kepentingannya dalam menafsirkan pesan, akan membuat tafsir tersebut bias, yakni tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari penyampai pesan.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

Oke, kita semua mendukung penegakkan keadilan dan pembelaan kaum tertindas. Tapi "minoritas" dan "dipinggirkan" tidak sama dengan tertindas, sebagai contoh: pelaku kriminal adalah orang yang minoritas dan sangat terpinggirkan, namun justru mereka yang menindas orang lain.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

apa dasar keyakinan mengenai hak tersebut?

apa dasar dari tidak membenarkan (=menyalahkan) ini?

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Argumentasinya harus diperinci, mengapa agama HARUS menjadi urusan privat, dan mengapa urusan publik HARUS melalui proses konsensus?

----------------

Baca selengkapnya..

Saturday, May 26, 2007

Kerancuan Islam Liberal

Berikut adalah rekaman diskusi yang sangat bagus antara Yusuf Anshar dengan Ulil Abshor Abdalla yang saya ambil dari e-book yang didownload dari http://www.pakdenono.com/download/Awam.zip

Memang unsur emosi masih dominan di awal diskusi, namun pada akhir-akhir ada metode pengerucutan topik dan pengambilan kesimpulan yang sangat bagus untuk kita tiru. Mungkin ini yang dimaksud dengan "wa jaadilhum billatii hiya ahsan"


Date:Sun, 12 Dec 2004 18:59:35 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:ingin tahu
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Salam sejahtera untuk Anda dan rekan2 semua. Saya ingin mengetahui lebih mendalam tentang pemikiran Islam Liberal. Sejujurnya, saya adalah orang yang awam, yang tidak pernah mengecam pendidikan formal yang tinggi, baik dalam ilmu agama maupun umum. Saya hanya lulus SMA, pernah sempat kuliah di PT dan D3 tapi semuanya putus di tengah jalan. Saya lebih senang belajar mandiri (autodidak) terutama lewat membaca buku-buku, baik buku umum, terutama buku agama (Islam). Oleh karena saya orang awam, saya mengharap uraian Anda tidak dengan bahasa yang sukar (njlimet). Sesuai dengan pesan Rasulullah saw: "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka!" Saya rasa Anda menerima Hadits di atas, karena Hadits tsb agaknya tidak bertentangan dengan ilmu psikologi komunikasi modern. Dan setahu saya JIL menerima hal yg demikian. Mudah2an Anda bersedia membagi pengetahuan dengan saya yg awam ini dan terimakasih sebelumnya.

Wassalam,
Yusuf

Date: Mon, 13 Dec 2004 10:45:36 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject: Re: ingin tahu
To: "yusuf anshar"

Salam,
Silahkan mengunjungi situs JIL www.islamlib.com. Semua bahan-bahan yang anda butuhkan tentang JIL ada di sana.

Selamat membaca!

Ulil

Date:Tue, 14 Dec 2004 17:03:34 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:tentang kalian
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Setelah saya membuka-buka dan menelaah beberapa link dalam situs islamlib (utamanya link "Tentang Kami"), saya akhirnya mengambil kesimpulan mengenai Islam Liberal sbb:

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran terhadap Islam secara bebas dengan mengabaikan aqidah dan qaidah yang ada dalam Islam itu sendiri. Sistim pemikiran seperti ini jelas bathil dan sesat. Kenapa demikian? Begini logikanya:

a. Semua upaya penafsiran (pemikiran) sebebas apapun dia, tentu menggunakan metode, kaidah atau proses berpikir tertentu; kalau tidak demikian, itu bukan tafsir sebagai buah pikir melainkan lebih pantas disebut ngawur, nglantur atau nglindur. Kesimpulannya, tidak ada pemikiran yang bebas nilai, dia harus menggunakan kaidah berpikir tertentu agar diakui sebagai buah dari suatu proses berpikir.

b. Islam memiliki sejumlah nilai-nilai (aqidah dan qaidah) itu pasti (dan itu diakui oleh JIL sendiri), terlepas dari adanya sejumlah perbedaan pendapat terhadap beberapa materi dalam aqidah/qaidah tersebut. Nilai-nilai itulah yang harus digunakan agar buah pemikiran (penafsiran) kita terhadap Islam mendapat pengakuan sebagai bagian dari Islam. Sebagaimana halnya sebuah karya ilmiah dalam bidang ilmu tertentu, tidak akan mendapat pengakuan apa-apa bila tidak menggunakan metode ilmiah yang sesuai dengan bidang pembahasan karya tersebut, apakah itu fisika, sosiologi dan lainnya.

c. Nah, karena JIL tidak menggunakan aqidah dan qaidah Islam secara disiplin dan konsisten (kecuali yang sesuai dengan selera berpikirnya) dalam melakukan penafsiran bagaimana mungkin layak untuk diterima sebagai bagian dari Islam. Bahkan sudah sepantasnya kalau menurut Islam - sekali lagi menurut Islam - JIL adalah sesat dan keluar dari Islam; meskipun menurut pemikiran liberal sah-sah saja. Jadi, bertaubatlah!

"Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Dan peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri..." (QS 6:70)

"Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mendebat ayat-ayat Kami." (QS 7:51)

Wassalam,
Yusuf

Date:Sun, 19 Dec 2004 22:40:10 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: tentang kalian
To:"yusuf anshar"

Salam,
Sebaiknya anda belajar dan membaca lebih banyak agar tidak mudah menganggap bathil suatu ide.

Islam tidak membutuhkan orang-orang yang picik-pikiran dan suka menyesatkan sesama Muslim.

Baca lagi dan baca lebih banyak lagi.

Ulil

Date:Mon, 20 Dec 2004 17:58:17 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:picik
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Saya sangat setuju dengan anjuran anda utk banyak membaca (itu hobi saya). Tapi tolong jawab pertanyaan saya:

Apakah menerima semua pendapat atau tidak menolak satupun pendapat adalah syarat utk terhindar dari picik-pikiran?

Apakah tidak ingin dikatakan sesat bukan salah satu bentuk picik-pikiran?

Lebih jauh lagi (saya ingin tahu aqidah kaum liberal); apakah menurut anda tidak ada dikhotomi antara haq dan bathil, benar dan salah, lurus dan sesat?

Wassalam,
Yusuf

Date:Mon, 20 Dec 2004 19:26:11 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: picik
To:"yusuf anshar"

Salam,
Anda boleh menerima atau menolak pikiran atau ide. Tetapi tidak berhak menyesatkan suatu ide. Itu bukan cara yang baik untuk berdiskusi. Apalagi anda hanya membaca sekelumit pikiran, dan dengan gampang menuduh suatu pikiran yang sekelumit itu sebagai sesat. Ini adalah model Islam a la Hartono Ahmad Jaiz (anda kenal, pengarang buku "Paham Sesat dalam Islam" itu?). Paham Hartonoisme ini yang membuat situasi diskusi dalam Islam menjadi tidak kondusif, karena dengan mudah sesorang disesatkan, dikafirkan, disyirikkan, dst.

Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu, sesat-menyesatkan seperti yang anda lakukan adalah bertentangan dengan semangat dasar Islam sebagaimana dipahami oleh kaum liberal. Kamu mengikuti semangat yang dikembangkan oleh para mujtahid dahulu, "Ra'yuna shawabun yahtamilul khatha', wa ra'yu khashmina khtha'un yahtamilush shawab."

Anda boleh mengkritik paham Islib. Kami juga mengkritik pemahaman kelompok-kelompok Islam lain. Tetapi kami tidak setuju dengan sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan. Sebab, kami menganggap bahwa jalan kebenaran menuju kebenaran adalah banyak. Bukan hanya satu. Islam satu, yes. Tetapi dipahami secara beda-beda. Tuhan satu, yes. Tetapi cara manusia mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda. Qur'an satu, yes. Tetapi tafsirnya beda-beda. Saya menolak anggapan bahwa satu jenis tafsir atau pemahaman adalah paling benar, dan yang lain dianggap sesat.

Islam liberal tidak pernah mendaku, sebagaimana kaum Islam fundamentalis, bahwa dirinya paling benar.

Kita semua adalah "salik", dalam istilah tasawwuf, pejalan-kaki yang sedang mencari kebenaran. sementara jalan menuju kepada kebenaran itu banyak ragamnya.

Terakhir, apakah ada dikotomi antara "haq" dan "bathil"? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya. Orang-orang dengan semangat Hartonoisme akan dengan mudah menuduh bahwa pendapat-pendapat yang berlawanan dengan dirinya adalah bathil. Inilah yang terjadi dalam Islam selama ini: semua kelompok menganggap dirinya yang paling haq, yang lain bathil. Orang Sunni menganggap orang Syiah bathil, begitu juga sebaliknya. Di dalam Sunni sendiri, masing-masing kelompok membathilkan kelompok yang lain. Bagi saya, Islam menjadi buruk citranya karena hal-hal semacam ini.

Islam liberal menghendaki bentuk pemahaman Islam yang lain, yakni pemahaman yang menempatkan semua perbedaan firqah, mazhab, isme, pandangan, ideologi, aliran dan lain-lainnya sebagai sebuah kekayaan Islam, dan tidak boleh disesatkan atau dikafirkan. Hanya dengan begitu Islam menjadi suatu peradaban yang kaya. Islam akan menyempit menjadi agama yang kerdil jika orang-orang yang berpandangan picik bahwa pemahamannya sendiri adalah paling benar (seperti anda?) marak di mana-mana, jika Hartonoisme berkecambah dan bertambah-tambah.

Semoga penjelasan ini mencukupi.

Ulil

Date:Tue, 21 Dec 2004 18:27:55 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:baru awal
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Terima kasih, karena pemahaman saya ttg pemahaman kaum liberal semakin bertambah.

Namun penjelasan anda bukannya mencukupi justru baru merupakan awal dari diskusi kita yg mungkin akan memanjang dan melebar. Saya harap anda tetap bersabar meladeni.

Ungkapan2 yg anda kemukakan memang sepintas cukup indah dan menyejukkan, namun sesungguhnya sangat lemah dan menggelikan. Satu contoh saja: imbauan anda agar tidak ada yg disesatkan atau dikafirkan karena Tuhan satu tapi cara mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda; kita adalah pencari kebenaran dan jalan utk menuju kebenaran itu banyak ragamnya. OK!

Taruhlah, jalan menuju Tuhan dan Kebenaran itu beragam dan berbeda-beda, tapi apakah diantara sekian banyak jalan itu tidak ada yang sesat? Apakah aliran "seks bebas" dan "bunuh diri massal" dengan alasan ritual penyembahan kpd Tuhan, tidak bisa dikatakan sesat?

Bisa saja anda dengan kemampuan berolah-kata sedemikian rupa dapat mengelak penggunaan cap "sesat" terhadap aliran seperti itu; dengan mengatakan itu adalah bentuk "pencarian Tuhan yg belum selesai" atau "kebebasan berekspresi di hadapan Tuhan yg kebablasan" atau "puncak kegilaan manusia dalam ber-Tuhan" dan seabrek jungkir-balik dansa bahasa yg lainnya; namun saya kira kita dan ummat manusia sedunia tetap saja lebih mudah menerima penggunaan kata "sesat" thd mereka.

Nah, kalau kita (atau kebanyakan kita) bisa menerima cap "sesat" thd golongan2 "kebablasan" semacam itu, mengapa kita harus menolak penggunaan kata "sesat" thd sejumlah golongan2 tertentu meski dg kadar dan tingkat kesesatan yg berbeda-beda? Spt ungkapan Tuhan dlm al-Quran ttg "kecondongan yg sedikit" dengan kalimat "... laqad kidta tarkanu ilaihim syaian qalilan" [QS 17:74] dan "kesesatan yg jauh" dengan kalimat "... faqad dhalla dhalalan ba'idan" [QS 4:116].

Itu hanya satu contoh komentar saya thd uraian anda. Komentar2 yg lainnya saya simpan dulu agar diskusi kita tidak terlalu memanjang dan melebar.

Di atas saya katakan ini baru awal dari diskusi kita karena saya melihat titik pangkal pembicaraan yg mudah2an bisa mengurai benang atau jaring kusut dari pemikiran "Jaringan Ummat Liberal" (usul saya JIL berganti nama dulu menjadi JUL). Titik awal diskusi kita adalah ucapan anda: ".... apakah ada dikotomi antara haq dan bathil? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya." Yah, itulah masalah dasarnya. Kalau begitu, apa defenisi kaum liberal sendiri ttg al-haq dan al-bathil?

Wassalam,
Yusuf

Date:Tue, 21 Dec 2004 19:39:49 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: baru awal
To:"yusuf anshar"

Salam,
Setahu saya, yang suka bermain silat lidah, dan bermain dengan retorika bahasa yang seolah-olah meyakinkan adalah kaum fundamentalis. Ayat dan hadis kerap dihambur-hamburkan. Satu dua kalimat langsung penuh sesak dengan kutipan-kutipan dari Kitab Suci. Seolah-olah suatu pembicaraan yang penuh dengan ayat suci akan benar dengan sendirinya.

Saya belajar di pesantren. Pengalaman yang saya perolah dari pesantren adalah: kiai-kiai saya jarang mengutip ayat dan hadis, karena mereka khawatir keliru menafsirkan. Paling jauh mereka mengutip pendapat ulama atau kiai yang lain. Kalau pun keliru, tak apa-apa, toh mereka manusia. Itulah pengalaman yang membekas pada diri saya hingga sekarang. Dan itulah yang membuat saya agak "muak" melihat kaum fundamentalis di kampus-kampus yang setiap bicara selalu memercikkan ayat dan hadis di mana-mana.

Ayat dan hadis bisa mengalami inflasi jika diobral dengan cara demikian.

Kembali ke pokok soal yang anda (saya tak mau pakai kata "antum" a la kaum fundamentalis di Jakarta) persoalkan. Soal kebebasan menafsir.

Kebebasan menafsir sudah menjadi kenyataan dan fakta dalam sejarah pemikiran Islam. Itu terjadi dari sejak zaman sahabat dan makin berkembang pada generasi-generasi ulama yang datang belakangan. Ribuan tafsir dari pelbagai sudut pendekatan ditulis oleh ulama. Ada tafsir yang liberal atau yang literal. Ada tafsir dengan pendekatan sufi yang sangat "bebas" dan ada tafsir "bil ma'tsur" a la "al-Durr al-Mantsur" yang sangat taat dengan pemahaman harfiah.

Ribuan tafsir itu tak mungkin ditulis jika tak ada kebebasan berpendapat dan berpikir dalam Islam.

Yang saya kaget, umat Islam sekarang, yang umumnya tak belajar tradisi pemikiran Islam yang kaya, tiba-tiba membenci kebebasan berpikir. Ada-ada saja alasannya. Salah satu alasannya: kebebasan berpikir itulah yang menyebabkan Iblis terjatuh dan sesat. Sebab Iblis memakai pikirannya sendiri dan menolak perintah Tuhan. Ketauhilah saudaraku, argumen ini sudah pernah dipakai oleh para ulama dahulu yang menentang penggunaan qiyas atau silogisme, tetapi toh ulama lain tak terpengaruh dengan pendapat ini, dan tetap menganggap qiyas sebagai salah satu asas penting dalam istinbath hukum.

Alasan lain yang paling populer, dan tampaknya di sinilah anda (sekali lagi bukan "antum") terjatuh, adalah bahwa jika kebebasan berpikir dibiarkan, maka orang akan cenderung kebablasan. Apakah demi kebebasan berpikir "seks bebas" dihalalkan? Apakah demi kebebasan, cara-cara ibadah dengan bunuh diri massal diperbolehkan? Kalau semua pendekatan kepaa Tuhan adalah sah, apakah cara "gila" yang ditempuh oleh sekte seperti "Ranting Daud" itu absah?

Dan seterusnya.

Saya sungguh heran dengan tanggapan semacam ini. Orang-orang yang berjuang untuk tagaknya kebebasan pikiran, baik di Barat atau di Timur, tidak pernah berpikir bahwa hal itu untuk menghalalkan "seks bebas". Yang patut dicurigai adalah, kenapa soal seks begitu mengganggu pikiran umat Islam. Apakah mereka begitu "ngeres" pikirannya, sehingga dipenuhi dengan seks melulu?

Kenapa hal yang pertama terlintas di pikiran anda begitu mendengar soal "kebebasan berpikir" adalah soal seks? Apakah anda mempunyai masalah dalam hal ini (maaf)?

Semua agama, bukan hanya Islam, mengharamkan zina. Semua agama mengharamkan pembunuhan, pencurian, berbohong, menipu, bersikap tak hormat pada orang tua, dst. Apa yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement) adalah merupakan ajaran-ajaran yang universal, bukan saja dalam agama Yahudi tetapi juga Islam dan agama-agama lain. Praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar.

Di negeri-negeri yang menjunjung tinggi pemikiran yang bebas, pencurian dan pembunuhan tidak dengan sendirinya halal demi kebebasan berpikir.

Di sinilah saya percaya, bahwa akal manusia dan wahyu Tuhan sebetulnya bertemu dalam satu titik. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taymiyah sebagai "Muwafaqat Sharihil Ma'qul li Shahihil Manqul".

Bagaimana jika wahyu dan akal bertentangan?

Saya mengikuti pendapat Ibn Rushd, seorang filosof dan ahli fikih dari abad 13 M, dalam "Fashl al Maqal Fi Ma Baina al Hikmati was Syariati min al Ittishal". Menurut dia, jika ada pertentangan antara keduanya, maka wahyu harus ditakwil. Tetapi, hal ini harus dilihat dengan cermat. Tidak semua pendapat akal manusia dengan sendirinya sah. Hanya pendapat yang dalam istilah Ibn Taymiyah disebut "sharih", pendapat yang dilandasi dengan argumen yang kokoh, dan bukan sekedar memperturutkan hawa nafsu belaka, yang dapat dipertimbangkan.

Apa pendapat yang "sharih" itu? Ibn Rushd sendiri tidak menetapkan suatu ancar-ancar. Bagi saya, ancar-ancar itu tidak ketat, kaku, sebab pada akhirnya yang menentukan sebuah pendapat masuk akal dan tidak adalah kalangan cerdik pandai sendiri. Ibn Rushd sendiri sudah mengatakan dalam "Bidayat al Mujtahid" bahwa "al nushush mutanahiyah wa al waqai' ghairu mutanahiyah", teks-teks agama dan wahyu terbatas jumlahnya, sementara situasi sosial terus berubah. Bagaimana mungkin, kata Ibn Rusdh, sesuatu yang terbatas akan mengatasi yang tak terbatas. Di situlah akal manusia dan kebebasan berpikir diperlukan.

Tentang masalah "haq" dan "bathil", jelas hal itu ada. Yang menjadi soal adalah orang-orang yang sejenis dengan anda yang mudah "membathilkan" pandangan orang-orang yang berbeda. Anda menyebut JIL bathil? Atas dasar apa? Atas dasar kutipan ayat dan hadis yang berhamburan dengan seenaknya itu? Apakah kalau sudah mengutip ayat lalu selesai? Bukankah ayat bisa ditafsirkan macam-macam.

Ambil contoh ayat berikut ini. Ada ayat yang berbunyi, "La tudrikuhul abshar wa huwa yudrikul abshar wa huwal lathiful khabir". Ayat itu, kira-kira, isinya adalah bahwa Tuhan itu begitu lembut sehingga tak bisa dilihat oleh mata. Oleh karena itu, manusia tak akan bisa melihat Tuhan, meskipun di sorga. Atas dasar ayat inilah kaum Mu'tazilah menolak kemungkinan manusia melihat Tuhan di sorga.

Tetapi ada ayat lain, "Wujuhun yauma-idzin nadhirah, ila rabbiha nadlirah". Ayat itu kira-kira isinya adalah bahwa orang-orang yang beriman, di sorga nanti, akan melihat Tuhan. Atas dasar inilah kaum Asyariyyah berpendapat bahwa manusia mungkin melihat Tuhan di sorga.

Bagaimana anda mendamaikan antara kedua ayat itu. Kaum Mu'tazilah pakai ayat. Kaum Asyariyah pakai ayat. Mana yang benar.

Intinya, belum tentu kalau anda memakai ayat dan hadis dengan sendirinya anda sudah bisa menyudahi diskusi dan menuduh yang lain salah, sesat, bathil, murtad, kafir, dst.

Saya mengakui adanya yang "haq" dan yang "bathil". Tetapi saya, sebagai manusia, mempunyai pengetahuan yang terbatas, dan saya tak layak dengan begitu mudah menyalahkan dan membathilkan pendapat lain. Yang saya lakukan hanyalah mengkritik, tetapi saya tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa pendapat lawan saya bathil, kecuali jika pendapat itu jelas-jelas melawan akal sehat. Kalau ada orang berpendapat bahwa membunuh adalah halal, jelas itu batal, dari sudut pandang apapun. Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa cara beribadah orang Kristen dan Hindu adalah batal.

Dalam menghukumi sesutau "bathal" atau "haq", kita harus memakai dua instrumen: wahyu dan akal. Tidak bisa hanya dengan wahyu. Oleh karena itu, saya keberatan sekali dengan tindakan ceroboh para kaum fundamentalis yang mengobral ayat dan hadis, tetapi mengabaikan penalaran akal sehat.

Ala kulli hal, apa yang saya tulis ini belum tentu benar. Sebab hanya Allah lah yang tahu mana yang benar mana yang salah. Kita hanya berusaha untuk benar.

Ulil

Date:Wed, 22 Dec 2004 17:47:45 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:akal-sehat
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Membaca email anda yg lalu, kesan yg saya tangkap adalah uraian anda lebih banyak merupakan curahan perasaan dan emosi yg campur-aduk (kesal-muak-sinis-kaget-bingung jadi satu). Saya mengerti perasaan anda dan saya turut prihatin dg kekesalan dan kebingungan anda. Namun upaya saya utk sedikit menjernihkan dan menenangkan arus pemikiran kita agak terhambat dg curahan pemikiran (dan emosi) anda yg cukup deras. Barangkali memang begitu cara berpikir dan model diskusi anda dan komunitas anda di utan kayu. Hanya saja saya tak ingin ber-su'u zhann dengan mengatakan bahwa itu salah satu cara anda mengacaukan konsentrasi orang yg ingin berpikir lurus-lurus saja.

Tapi tak apalah, mari kita kembali mengurai benang kusut ketimbang berlarut-larut dlm emosi dan ratapan thd ummat Islam yg memang (saat ini) sedang centang-prenang. Benang-merah uraian kita masih seputar "kebebasan berpikir" dlm kaitannya dg haq & bathil, benar & salah, lurus & sesat.

Ada sedikit kemajuan, karena sepertinya anda sudah mengakui adanya jalan beragama yg sesat dan bathil dg pernyataan anda: ".... praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar". Meskipun anda belum berani (atau masih malu) menggunakan kata "sesat" di situ, tapi maksudnya kurang lebih sama; karena jika semua agama-agama besar adalah "jalan yg benar" (menurut anda) berarti apa yg "ditolak" oleh mereka adalah "jalan yg salah". Salah jalan = sesat. Alaisa kadzalik?

Nah, satu jalinan benang kusut telah berhasil kita tarik simpulnya yaitu memang ada jalan yg benar dan ada jalan yang sesat atau "salah jalan" (bila anda tidak tega menggunakan kata "sesat"). Sayangnya, kriteria benar dan sesatnya suatu jalan beragama anda serahkan begitu saja (tanpa jelas dalil dan argumennya) pada dua hal yaitu "akal-sehat" dan "nilai-nilai universal" yaitu nilai-nilai yg terdapat dlm semua agama. Di sini pemikiran kita saling kusut lagi. Mari kita coba uraikan jalinan benang kusut ini dengan menarik suatu titik-temu yg kita sepakati bersama.

Dalam beberapa bagian tulisan anda dalam email-email yg terdahulu anda telah memberikan suatu kesimpulan yg sangat berharga ttg "aqidah" kaum liberal yaitu bahwa "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Kalau memang demikian pengakuan dan keyakinan anda, bagaimana kalau kita katakan saja (karena di titik ini pikiran kita sepakat) bahwa:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Anda setuju dengan pernyataan di atas?

Wassalam,
Yusuf

Date:Thu, 23 Dec 2004 09:26:54 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: akal-sehat
To:"yusuf anshar"

Salam,
Dari mana anda menyimpulkan sejak awal bahwa dalam perspektif Islam liberal tidak ada yang "salah" dan "benar"? Tidak ada "haq" dan "batil"?

Sudah tentu hal itu ada. Yang membedakan anda dengan kaum Muslim liberal seperti saya adalah batasan mengenai dua istilah itu.

Aqidah kami adalah: Islam bukan satu-satunya agama yang benar, dan bukan pula paling benar. Maksud saya "Islam" sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kami memandang bahwa kebenaran tersebar dalam semua agama. Oleh karena itu, kami tidak akan memandang agama lain sebagai bathil.

Ada standar universal tentang kebathilan. Hal itu tampak dalam hal-hal yang baik secara wahyu atau akal sehat dianggap batal, seperti tindakan kejahatan yang terkandung dalam "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement).

Belum tentu hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan yang secara harafiah tertera dalam Quran adalah batil. Misalnya, hukuman penjara bagi pencurian yang menurut fiqh sudah memenuhi syarat untuk dikenai hukum potong tangan.

Kenapa demikian? Sebab, dalam kerangka bepikir kami, tidak semua hal yang secara harafiah tercantum dalam Qur'an mesti kita ikuti secara harafiah pula. Kenapa demikian, kita diskusi di lain kesempatan (kalau saya ada waktu).

Sekarang saya akan menanggapi pernyataan anda di bawah ini:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Apa yang anda maksudkan dengan "jalan agama"? Apakah jalan itu menyangkut ibadah, mu'amalah, akhlaq, adab, atau apa? Sebab agama memiliki dimensi yang kompleks. Di level mana anda mau berbicara?

Apa yang anda maksudkan dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan"? Bisakah anda menggunakan istilah yang jauh lebih standar dalam keilmuan Islam? Sebab istilah "kriteria Tuhan" sama sekali tidak jelas.

Saya tak akan menjawab pertanyaan anda ini kalau anda tidak menjelaskan masalah itu dulu.

Ulil

Date:Thu, 23 Dec 2004 19:42:39 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:kriteria agama
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Saya cukup surprise mendengar pernyataan anda bahwa agama memiliki dimensi yang sangat kompleks. Tadinya saya menganggap kaum liberal mempersempit makna agama pada tataran moral saja. Syukurlah kalau begitu! Bila anda meminta saya memperjelas di level mana kata "agama" yang saya maksud dalam kalimat:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Maka saya katakan bahwa sebenarnya yg saya maksud adalah "agama" dlm arti yg seluas-luasnya (di semua lini kehidupan). Tapi agar diskusi kita tidak terlalu melebar sehingga bertele-tele (apalagi anda sedang sibuk, mungkin ikut seminar natal dsb) maka dalam diskusi kali ini saya membatasi pada level "aqidah" atau "kepercayaan" saja dulu.

Adapun yg saya maksud dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan" tidaklah terlalu muluk-muluk, anda tidak usah bingung. Persis seperti pengertian kriteria yg terdapat dalam kamus-kamus (kriteria = standar, ukuran, patokan, norma). Dalam kaitannya dengan Tuhan dan Agama berarti kepercayaan dan amalan apa saja dalam beragama yg harus dimiliki oleh seseorang untuk mendapatkan ridha Tuhan. Kalau anda meminta istilah yg lebih islami (ehm...) ya Rukun Iman dan Rukun Islam itu. Tapi saya kira seorang liberalis sejati macam anda lebih senang menggunakan istilah yg universal.

Nah, kalau kedua pengertian di atas kita gabung maka pernyataan tadi bisa diperjelas sebagai berikut:

"Tidak ada standar, ukuran, patokan dan norma yang terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu kepercayaan (aqidah) dalam agama selain standar, ukuran, patokan dan norma yang ditetapkan oleh Tuhan."

Sekali lagi: apakah anda setuju dengan pernyataan di atas? Kalau anda memang sedang super sibuk, cukup dijawab dengan dua huruf "YA" atau "NO".

Wassalam,
Yusuf

Date:Fri, 24 Dec 2004 06:23:30 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: kriteria agama
To:"yusuf anshar"

Salam,
Jelaskan dulu, apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam masalah akidah.

Urusan akidah dalam Islam tidak sesimpel yang anda bayangkan. Pertengkaran pendapat luar biasa hebatnya. Banyak sekte timbul di sana. Masing-masing mendaku sebagai paling benar, paling sesuai dengan kriteria Tuhan.

Apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam akidah? Apa saja isinya?

Ulil

Date:Sun, 26 Dec 2004 18:37:04 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:kesimpulan dan saran
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Meskipun anda tidak menjawab dengan "ya" atau "no" tapi dari tema baru yg anda angkat dapat disimpulkan bahwa anda setuju dan memang tidak bisa tidak, anda mesti setuju dg pernyataan tsb. Karena pernyataan tsb adalah konsekuensi logis dari prinsip kaum liberal sendiri bahwa: "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Saya bertanya "setuju atau tidak" hanyalah utk mengingatkan dan menegaskan kembali aqidah dan aksioma tsb. Karena siapapun yg ditanya - asalkan dia tidak atheis - tentang siapa yg paling tahu (segala hal, apalagi ttg agama) apakah Tuhan atau manusia; pasti akan menjawab "Tuhan" tanpa perlu berpikir panjang lagi; meskipun diantara mereka sendiri masih sibuk berdebat ttg "Tuhan". Yah, di situlah anehnya manusia dan di situlah hebatnya Tuhan yg menciptakan manusia.

Di bawah ini saya urutkan dulu kemajuan dan kesimpulan yg telah kita capai dari diskusi ini:
1. Adanya jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama dan adanya jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama.
2. Tidak ada yang paling tahu ttg jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama selain Tuhan.

Bagaimana cara manusia mendapat ilmu Tuhan itu? Jawabannya ialah lewat Wahyu. Orang yang mendapat wahyu dari Allah disebut Nabi atau Rasul. Berhubung komunitas anda masih mengaku beragama Islam (paling tidak berlabel Islam), maka Wahyu yg dimaksud dlm pembicaraan kita ini tidak lain adalah wahyu terakhir (yakni al-Quran) yg diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir (yakni Muhammad saw).

Kalau demikian, berarti kesimpulan di atas kita tambah dengan kesimpulan ketiga sbb:

3. Untuk mengetahui jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama kita harus merujuk pada firman Allah dalam al-Quran dan sabda Rasul dalam al-Hadits.

Sekarang barulah kita memasuki medan pertarungan sesungguhnya antara semua golongan, sekte dan aliran yg mengaku diri Islam (termasuk JIL). Medan pertarungan itu adalah:

"Mana jalan beragama yg haq, benar, lurus dan mana jalan beragama yg bathil, salah, sesat menurut Allah dan Rasul-Nya (menurut al-Quran dan as-Sunnah)?"

Hal ini sesuai dengan - dan sudah mencakup - pertanyaan anda: bagaimana kriteria dan materi aqidah dalam Islam? Menurut anda, aqidah Islam tidak simpel, sengit dipertengkarkan hingga menimbulkan banyak sekte. Bagaimana ini?

Sebelumnya, ada dua prinsip dan fakta yg harus kita ingat:
1. Aqidah Islam (demikian pula aspek-aspek lain dlm Islam) adalah apa yg dikatakan oleh al-Quran dan as-Sunnah, bukan apa yg dikatakan oleh sekte-sekte ummat Islam.
2. Sekte-sekte tsb baru muncul jauh sepeninggal Nabi saw dan tidak kita dapati di zaman Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Mengapa di zaman Nabi belum muncul sekte-sekte? Penyebabnya ada dua:
1) Ketika itu wahyu masih turun dan penerima wahyu (yg punya otoritas utk menjelaskannya) yaitu Nabi masih hidup. Sehingga semua pertanyaan yg timbul seputar Islam akan dijawab langsung oleh "nara sumber kebenaran" yakni Allah lewat lisan Nabi-Nya.
2) Sikap para sahabat yg "sami'na wa atha'na" dan tidak suka bertanya yg tidak perlu. Hal-hal yg berkaitan dengan aqidah yg disampaikan oleh al-Quran dan al-Hadits langsung mereka imani dan yg berkaitan dengan amaliyah langsung mereka amalkan.

Perselisihan pendapat yg menjurus ke perpecahan mulai terjadi setelah lenyapnya faktor pertama di atas (Nabi wafat). Kemudian dari zaman ke zaman, perpecahan semakin menjadi-jadi hingga menimbulkan sekte-sekte, seiring dengan makin lunturnya "watak sahabat" (faktor kedua) di kalangan ummat Islam. Lemahnya iman, rendahnya ketaatan serta banyak bertanya dan berdebat merupakan pintu gerbang terbesar (dari sisi internal) bagi timbulnya sekte-sekte dlm Islam.

Adapun dari sisi eksternal, masuknya filsafat dlm tubuh ummat Islam (disamping faktor politik) merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi maraknya sekte-sekte itu. Mengapa demikian? Pekerjaan filsafat hanya dua, bertanya dan berdebat, berdebat dan bertanya, tak putus-putusnya bagaikan "lingkaran setan" (karena bila berhenti berarti tamatlah riwayat filsafat). Seandainya seluruh filsuf yg ada di dunia dibebankan utk menuntaskan satu permasalahan saja sebelum berpindah ke permasalahan selanjutnya, niscaya habis umur mereka dan habis umur dunia, sedang mereka masih sibuk berpikir ttg "apa itu berpikir?". (Rene Descartes yg sempat diduga mati bunuh-diri, terkenal dg ucapan hampanya cogito ergo sum = aku berpikir maka aku ada. Kalau benar ia bunuh-diri, mungkin saja ia ingin membuktikan kesimpulannya dan tidak ingin kesimpulannya itu dipertanyakan lagi). Apalagi utk memikirkan ttg "akal", alih-alih utk memikirkan ttg Sang Pencipta akal dan apa yg dimaui Tuhan. Manakala cara filsafat dipakai dlm beragama niscaya kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa selain kekufuran. Kenapa? Karena agama diturunkan bukan utk itu (dipertanyakan dan diperdebatkan). Agama diturunkan utk diimani dan diamalkan. (NB: filsafat dan turunannya sebetulnya berguna untuk membahas sains, bukan agama).

Bercermin dari kedua fakta dan faktor penyebabnya di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa utk mengetahui ajaran Allah dan Rasul-Nya yg benar, kita harus kembali ke masa awal Islam, melihat bagaimana para sahabat pada umumnya (utamanya as-sabiqun al-awwalun, khususnya al-khulafa' ar-rasyidun) mengimani dan mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah. Itulah Islam yg masih bersih dari distorsi dan kontaminasi sekte-sekte dan penafsiran-penafsiran yg menyimpang. Bukankah anda sendiri pernah berkata:

"Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan."
(Saya kutip tanpa perubahan, dari email anda tanggal 20 Desember 2004).

Memang para sahabat termasuk dlm perkataan anda "kita adalah manusia relatif". Tapi seperti yg saya kemukakan di atas, sikap para sahabat terhadap al-Quran dan al-Hadits tidak seperti kita. Para sahabat tidak suka bertanya dan berdebat, demikian pula tidak suka menakwil dan menafsirkan. Apa yg mereka terima dari Allah dan Rasul-Nya (al-Quran dan as-Sunnah) mereka sikapi dengan iman dan amal. Sehingga apa-apa yg mereka sepakati (ijma' para sahabat) bukanlah hasil penafsiran dan pemahaman pribadi mereka melainkan hasil dari sikap mengimani dan mengamalkan apa-apa yg disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ijtihad baru mereka lakukan manakala menemukan hal-hal baru yg tidak mereka dapati (secara eksplisit) dalam al-Quran dan as-Sunnah, itupun dengan cara yg sangat hati-hati dan tetap berlandaskan aqidah dan kaidah yg mereka dapati dlm al-Quran dan as-Sunnah.

Dari uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan keempat yg merupakan hasil akhir dari diskusi kita yaitu:
4. Jalan beragama yg haq, benar, lurus menurut Allah dan Rasul-Nya adalah jalan beragama sebagaimana yg telah disepakati (ijma') oleh para sahabat Rasulullah saw sedang jalan beragama yg bathil, salah, sesat adalah jalan beragama yg bertentangan dengan kesepakatan (ijma') para sahabat Rasulullah saw.

Keempat kesimpulan di atas - kalau anda menelaah baik2 diskusi kita dari awal hingga kini - pada dasarnya disarikan dari prinsip2 atau pernyataan2 anda sendiri. Jadi saya hanya mencoba memetakan kembali prinsip2 anda dalam bingkai Islam yg terlepas, sementara anda sendiri tidak mau melepaskan label "islam" dari nama jaringan anda (entah karena pertimbangan strategis duniawi ataukah ukhrawi; Allahu A'lamu).

Sekarang mari kita introspeksi. Adakah diantara para sahabat yg tidak menganggap kafir orang yg mempertuhankan Yesus Kristus? Adakah diantara al-khulafa' ar-rasyidun yg mengkafirkan sesama mereka sebagaimana Syi'ah yg mengkafirkan Abubakar dan Umar? Adakah diantara para sahabat yg menghalalkan wanita muslimah menikah dengan pria non-muslim? Bagaimana dengan komunitas anda?

Benang dan jaring kusut JIL telah saya uraikan sehingga terpisahlah tali Islam dari tali liberal dengan empat simpul di atas. Kini terpulang kepada anda, mau memegang tali yang mana. "Al-haqqu min rabbika faman sya-a falyu'min wa man sya-a falyakfur". Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberikan saran dan imbauan berikut:

1. Bila anda mau berpegang dengan keempat asas di atas, berarti anda harus menanggalkan pemikiran liberal anda yg bertentangan dengan ijma' atau kesepakatan kaum muslimin. Andaikata itu terjadi, saya menyarankan agar anda mengganti nama JIL menjadi JMP (Jaringan Muslim Progresif) misalnya. Seorang muslim yg progresif (berpikiran maju) tidak mesti menanggalkan aqidah dan qaidah keislaman mereka. Anda bisa membahas berbagai isu-isu aktual seputar ummat Islam dengan jujur, terbuka dan kritis tanpa perlu melanggar ajaran Islam.
2. Bila anda tidak mau melepaskan pemikiran liberal anda, maka anda harus melepaskan label "Islam" dari nama komunitas anda; misalnya menjadi JUL (Jaringan Ummat Liberal).
3. Bila anda tidak mengindahkan salah satu dari kedua saran di atas, berarti anda tetap berpegang dengan tali liberal yg kufur dan melilitkannya dengan tali Islam sehingga menghasilkan pemikiran yg kusut dan sesat lagi menyesatkan banyak kaum muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Wassalam,
Yusuf

Diskusi ini berakhir sampai di sini, ditandai dengan tidak dibalasnya email terakhir Yusuf Anshar. Sebelum mempublikasikan diskusi ini di internet, Yusuf Asnhar mengirim email pemberitahuan terlebih dahulu kepada Ulil, tapi email itu tidak juga dibalas.

Baca selengkapnya..

Darul Islam dan Darul Kufur


Berikut adalah artikel dari Majalah Al Furqan, Gresik, Edisi 9, Tahun IV, 2005, halaman 33 – 34. Pada kesempatan lain, insya Allah akan saya diskusikan.

Para ulama' ahlus sunnah membagi suatu negeri menjadi 2 macam yaitu Darul Islam dan Darul Kufur, namun mereka berbeda pendapat tentang indikasi yang dijadikan patokan dalam menghukumi suatu negeri apakah Darul Islam atau Darul Kufur.

Salah satu pendapat yang kuat yang menjadi indikator bahwa suatu negeri merupakan Darul Islam adalah amalan – amalan dan syi'ar – syi'ar Islam yang tampak pada penduduk negeri tersebut seperti adzan, shalat 5 waktu, shalat Jum'at, Shalat 'Ied dan lain sebagainya.

Pendapat tersebut diambil berdasarkan hadits berikut:

Dari Anas bin Malik radhiyallaHu 'anHu, ia berkata, "Kaana Rasulullah yaghiiru idzaa thala'al fajru wa kaana yastami'ul adzaana fain sami'a adzaanan amsika wa ilaa aghaar" yang artinya "Adalah Rasulullah jika hendak menyerang daerah musuh ketika terbit fajar. Beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar adzan maka beliau menahan diri, dan jika tidak mendengar maka beliau menyerang" (HR. Bukhari no. 610 dan Muslim no. 1365)

Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata, "Hadits ini menunjukan bahwa adzan menahan serangan kaum muslimin kepada penduduk negeri daerah tersebut, karena adzan tersebut merupakan dalil atas keislaman mereka" (Syarh an Nawawi pada Shahih Muslim 4/84)

Al Imam Qurthuby berkata, "Adzan adalah tanda yang membedakan antara Darul Islam dan Darul Kufur" (Al Jami' Liahkamil Qur'an 6/225)

Az Zaqarny berkata, "Adzan adalah syi'ar Islam dan termasuk tanda yang membedakan Darul Islam dan Darul Kufur" (Syarh Zarqany atas Muwatha' 1/215)

Baca selengkapnya..

Saturday, May 19, 2007

Misteri Hidup Nomor Dua



Ada tiga misteri kehidupan:
1. Lahir
2. Jodoh
3. Mati

Istilah yang paling tepat untuk menggambarkan masalah jodoh diberikan oleh FS, "it's complicated". Aku dah nulis banyak di blog ini, pada judul "Pasar Jodoh", tentang efek informasi yang tidak lengkap kepada sulitnya mendapatkan jodoh.

Jodoh sudah diatur Alloh s.w.t. Tidak ada yang membantah pernyataan tersebut. Bahkan segala peristiwa di alam semesta ini telah tertulis di Lauh al-Mahfudz sebelum penciptaannya.

Aq tidak mau lagi berlama-lama berkubang dalam wacana agama, filosofis, atau ekonomi tentang persoalan jodoh ini. Mendapatkan jodoh bukan ilmu, tetapi seni. Tips dan trik cukup membantu, tetapi selalu ingat bahwa manusia banyak ragamnya. Tidak ada trik yang berlaku untuk semua orang.

Pilihan akan jodoh semakin sempit kalau cuma mengandalkan orang yang sudah dikenal. Aq jadi ingat strategi direct selling, bahwa keberhasilan itu tidak akan datang kalau hanya mengandalkan dari orang-orang yang sudah dikenal saja, biasa disebut warm list. Kita harus berani melangkah ke cold list, yakni orang-orang yang belum kita kenal. Untuk mempermudah, sebaiknya cold list ini kita dapatkan referensinya dari warm list. Gampangnya adalah mereka yang temannya teman kita.

Banyak keraguan untuk mengambil jalan ini. Melibatkan orang lain dalam permasalahan privasi seperti ini bukan keputusan yang mudah. Membuat komitmen besar dengan orang yang belum lama kita kenal sungguh membawa banyak ketidakpastian. Sangat tidak nyaman! Namun jalan ini harus ditempuh bila ingin memperoleh kemudahan.

Tidak ada insurance atas risiko ketidakpastian yang kita hadapi dalam masalah jodoh ini. Satu-satunya insurance adalah dari Alloh s.w.t. Kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mantap dalam memilih, dan hati kita digerakkan oleh-Nya agar menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat. Makanya, sholat istikhoroh tu hampir wajib selama kita dalam proses pencarian jodoh ini.

Baca selengkapnya..

Pengin nulis konyol

Perasaan blogku isinya serius semua. Kalau blogku isinya melulu gini, segmen pembacanya bakal sempit. Aq mesti diversifikasi topik-topik blogku. Bisa ga sih aq bikin topik ringan dan konyol?

Keseharianku aq bisa cukup ngebanyol, tp selama ini blm tersalur di tulisan. Pas nulis gini bawaanku serius. Kontras banget ama tulisan Bulba yg bisa meramu tulisan cerdas dengan kekonyolan yg lucu abis.

Coba deh kapan2. Kalo ntar ga lucu, ya berarti mang ga bakat nglucu. Mending spesialisasi tulisan serius aja.

Baca selengkapnya..

Metode Penyampaian Keyakinan Muslim

Tujuan penyampaian materi khittoh bukanlah keseragaman pemikiran, tetapi mengenalkan bagaimana sistem keyakinan, sistem ilmu pengetahuan, dan sistem sosial terbentuk, dan bagaimana masing-masing diri menilai, memilih, dan membentuk sistem tersebut.

Dekonstruksi perlu untuk menyadarkan kader bahwa dasar keyakinan mereka lemah. Tetapi mengetahui ketidaktahuan baru langkah awal menuju pengetahuan. Berikutnya adalah proses akuisisi pengetahuan itu sendiri. Idealnya, semua orang melakukan proses akuisisi tersebut sendiri. Namun kenyataannya, banyak di antara kita yang terhenti prosesnya karena diri tidak menikmati proses tersebut dan larut dalam aktivitas keseharian.

Oleh karena itu saya lebih memilih metode rekonstruksi, yakni menunjukkan kepada audiens bagaimana struktur keyakinan mereka dibentuk dan bagaimana percabangan-percabangan antar keyakinan di dunia. Sembari itu, saya menunjukkan apa pilihan yang saya ambil pada tiap percabangan tersebut dan argumentasi saya dalam pilihan tersebut. Audiens boleh tidak setuju dengan pilihan dan argumen saya, bisa juga mereka mengkritik argumen saya yang lemah.

Diharapkan dengan metode rekonstruksi ini, audiens memiliki dasar keyakinan yang kuat, dengan tetap memiliki gambaran pola yang jelas bagaimana cara mereka mengulangi proses rekonstruksi tersebut sendiri bila mereka masih belum puas dan tidak setuju dengan jawaban yang diberikan pemateri.

Sistematika penyampaian materi Keyakinan Muslim

  1. Perlukah keyakinan memiliki dasar?
  2. Dua dasar keyakinan: ilmu vs dzan
  3. Kebenaran: absolut vs relatif
  4. Peta keyakinan umat manusia: penciptaan, kerasulan, periwayatan, penafsiran, dan kontekstualisasi tafsir
  5. Argumen adanya Pencipta Alam Semesta
  6. Argumen kerasulan Muhammad
  7. Argumen Al-Quran sebagai firman
  8. Keaslian Qur’an dan Hadits vs kitab-kitab agama lain
  9. Menilai agama dan keyakinan baru
  10. Metode tafsir
    • Al-Quran universal vs lokal dan terbatas waktu
    • Tafsir teratur vs tafsir bebas
    • Mengakui satu pemahaman vs pluralisme
  11. Keresahan-keresahan teologis, misal: orang kafir yang baik secara sosial, orang kafir yang tidak mengenal Islam (yang sebenarnya), rahmat – keadilan – azab, kuasa – ampunan – menepati janji, dll

Baca selengkapnya..

Blog adalah karakter

Apapun boleh ditulis orang dalam blog. Pada akhirnya, topik-topik apa yang muncul dalam blog seseorang, itu adalah pikiran yang dominan di kepalanya, paling tidak ia menilai hal tersebut sebagai pikirannya yang ingin atau penting diketahui orang lain.

Dari sedikit pengamatanku di beberapa blog temanku, ada kesesuaian kuat antara perbincangan mereka di blog dan perbincangan keseharian mereka dengan teman-temannya.

Dari kesimpulan di atas, konsekuensinya adalah kita bisa mengenal orang yang belum terlalu kita kenal dari isi blognya. Jadi biar kita bisa saling kenal, pada nulis blog dong!

Baca selengkapnya..

Thursday, May 17, 2007

Al-Quran Tidak Multitafsir


Kaum muslimin meyakini sepenuhnya bahwa firman Alloh dalam Al-Quran dan Sunnah Rosululloh s.a.w. adalah kebenaran mutlak. Namun kini sebagian orang ragu akan adanya tafsir atau pemahaman yang mutlak benar sebagaimana Al-Quran dan Sunnah itu sendiri.

Keraguan tersebut awalnya muncul ketika melihat kenyataan banyaknya ragam pemahaman Islam yang sama memiliki argumentasi dari nash maupun rasional, sehingga orang awam sulit menentukan mana yang benar di antara beragam pemahaman tersebut. Keraguan itu diperkuat secara teoritis dengan melihat bahwa proses pemahaman terhadap Al-Quran dan Sunnah dilakukan oleh akal yang membawa kepada multi-interpretasi.

Walaupun demikian, dasar teoritis keraguan di atas sangat lemah. Bahwa adanya kemungkinan multi-interpretasi pada suatu teks adalah pernyataan yang benar, akan tetapi tidak berlaku pada semua teks. Dari kemungkinan interpretasinya, ada dua jenis teks: teks yang membawa ke interpretasi tunggal dan teks yang membawa pada interpretasi non-tunggal (multi-interpretasi). Namun interpretasi terhadap kedua jenis teks memiliki kaidah yang sama, “interpretasi suatu teks tidak bisa bertentangan dengan makna harafiah teks tersebut.

Dalam konteks pembuatan hukum tertulis, para perumus teks hukum berusaha keras agar teks hukum tersebut meminimalkan kemungkinan multi-interpretasi. Mereka melakukan minimasi tersebut dengan menyebutkan definisi yang terang, dan menjelaskan serinci-rincinya tiap aspek yang ingin diatur.

Dalam semua bidang ilmu, definisi selalu diletakkan di awal pembahasan dalam rangka menghindari kekaburan pemahaman dan kesalahan interpretasi. Definisi harus menunjukkan hakikat sesuatu dan sekaligus menegasikan hal-hal yang tidak menjadi bagian dari sesuatu tersebut.

Al-Quran sendiri menyebutkan bahwa padanya terdapat ayat-ayat yang menunjuk pada interpretasi tunggal (muhkamat) dan ayat-ayat yang menunjuk pada multi-interpretasi (mutasyabihat).

Kaidah umum untuk menginterpretasi sesuatu yang masih kurang jelas adalah dengan merujuk kepada sesuatu lain yang sudah jelas. Kaidah ini berlaku untuk interpretasi semua jenis teks. Karenanya, interpretasi terhadap ayat mutasyabihat harus berpegang pada ayat muhkamat.

Kesimpulan

Dengan demikian, akal tidak bebas sepenuhnya dalam menginterpretasi Al-Quran dan Sunnah. Interpretasi akal dibatasi paling tidak oleh dua kaidah yang rasional dan universal. Pertama, interpretasi tidak bisa bertentangan dengan makna harafiah ayat atau hadits. Kedua, interpretasi ayat mutasyabihat harus berpegang pada ayat muhkamat.

Barangsiapa yang tidak berpegang pada dua kaidah ini, dia akan terjatuh pada kesalahan interpretasi. Barangsiapa tidak mempercayai dua kaidah ini, maka kesehatan akalnya diragukan. Lagipula orang tersebut tidak akan konsisten, di kehidupan sehari-hari ia pasti menerapkan dua kaidah itu. Ia tidak konsisten untuk menerapkan dua kaidah tersebut pada saat mentafsirkan Al-Quran dan Sunnah karena interpretasi akan menjadi tidak bisa dibelokkan agar sesuai dengan pra-anggapannya.


Baca selengkapnya..

Tuesday, May 15, 2007

Perlukah Argumentasi untuk Keyakinan?

Ada dua kondisi orang yang mengatakan bahwa dirinya yakin atas sesuatu: memiliki alasan dan tanpa alasan. Apakah keduanya dibenarkan? Untuk menilainya, kita bisa melihat dari konsekuensinya.


Sebagai ilustrasi, bagaimana jadinya bila seseorang menuduh tetangganya sebagai pelaku pencurian televisi miliknya tanpa alasan. Penilaian cepat terhadap perilaku tersebut adalah sang penuduh telah melakukan fitnah. Orang lain tidak akan mempercayainya karena tidak ada alasan sama sekali. Lalu mengapa si penuduh bisa meyakini bahwa tetangganya-lah yang mencuri tv miliknya? Bisa jadi keyakinan tersebut adalah karena kebencian dan prasangka buruk yang amat kuat terhadap tetangganya.

Tentu lain halnya dengan cerita komik detektif Conan yang mampu mengungkap pelaku dari kejahatan dengan bukti dan penjelasan bagaimana bukti tersebut menunjukkan bahwa orang yang dituduh oleh Conan itulah pelaku sebenarnya. Semua orang dapat menerima tuduhan tersebut karena alasan yang dikemukakan Conan sangat masuk akal, didukung dengan bukti yang kuat, dan orang yang dituduh gagal menunjukkan bukti dan penjelasan yang menjadi alibinya.

Pertengahan di antara dua kondisi itu adalah pernyataan yang didukung oleh bukti dan penjelasan, tetapi bukti diragukan kebenarannya atau penjelasan tidak mampu menunjukkan keterkaitan bukti dengan apa yang dinyatakan. Kondisi ini lebih baik daripada kondisi keyakinan tanpa alasan, namun masih belum cukup karena dukungannya tidak kuat.

Keyakinan yang tak beralasan, atau hanya memiliki alasan yang lemah, atau alasannya telah tertolak oleh bukti dan penjelasan yang bertentangan, tidak bisa dijadikan landasan sikap baik untuk individu maupun masyarakat.

Namun seringkali ada orang yang tetap bertahan pada pendapat/keyakinannya walaupun telah jelas kelemahan alasannyanya atau hanya berdasar pada alasan "pokoknya". Orang seperti ini yang disebut dengan orang yang keras kepala.

Rosululloh s.a.w. mendefinisikan orang yang sombong sebagai orang yang menolak kebenaran. Dan orang disebut kafir apabila ia telah mendapatkan seruan kepada kebenaran dan telah jelas baginya kesalahan dirinya, namun tetap menolak untuk tunduk kepada kebenaran tersebut.

Baca selengkapnya..

Desakralisasi Kata Tuhan

Ketika di satu sisi masyarakat tradisional mudah mengkultuskan sesuatu yang fana, di sisi lain masyarakat modern kadang terlalu mudah untuk mendesakralisasi hal-hal yang sakral. Sampai sesuatu yang paling sakral, yakni Tuhan, disertakan dalam obrolan dengan begitu ringan, kadang dibuat bahan tertawaan. Seakan mereka merasa besar ketika bisa memperkecil makna kata "Tuhan" tersebut.

Hal-hal seputar Tuhan yang lebih sering dibuat olok-olok adalah surga dan neraka, serta malaikat dan setan. Penggambaran surga dan neraka dibuat semaunya. Malaikat digambarkan sosok berbaju putih, sementara setan sosok berbaju hitam dan menyeramkan, yang keduanya diperankan oleh seorang aktor. Para pembuat film merasa bebas untuk membuat visualisasi hal-hal yang gaib itu berdasar khayalan mereka. Semakin mengesankan visualisasi tersebut, semakin banyak penonton, semakin banyak uang yang mereka raup.

Baca selengkapnya..

Monday, May 14, 2007

Jangan Menilai Seorang Dari Kelompoknya

Hisab di akhirat dilakukan secara individual, bukan kelompok. Mereka memang dikelompokkan dalam perjalanan akhirat, namun pengelompokan tersebut bukan berdasarkan kelompok mereka di dunia, namun berdasarkan amalan mereka. Sekumpulan orang di dunia karena satu keluarga, satu bangsa, satu organisasi, akan terpisah-pisah di akhirat. Sebaliknya orang yang tidak saling mengenal semasa hidupnya bisa menjadi satu kelompok karena mereka memiliki kesamaan tingkat amalan.

Di sisi lain, kita suka menilai seseorang dari kelompok mana ia berasal. Kita suka melakukan generalisasi bahwa seluruh orang yang berasal dari suatu kelompok memiliki sifat-sifat tertentu yang menjadi keumuman anggota kelompok tersebut. Sehingga kita mudah menilai bahwa seseorang dari kelompok yang biasa kita kenal sebagai kelompok baik pasti akan baik pula dirinya. Sementara seorang yang berasal dari kelompok yang jelek pasti jelek pula dirinya.

Padahal tiap individu dalam kelompok memiliki variasi yang unik. Memang akan terdapat sifat-sifat yang umum. Namun dalam sifat yang umum ini pun, akan ada orang-orang yang tidak memiliki sifat tersebut. Mereka memang orang yang aneh dalam kelompok tersebut. Bisa jadi mereka belum menjadi orang yang terwarnai sepenuhnya oleh kelompok tersebut.

Baca selengkapnya..

Sunday, May 13, 2007

Periwayatan Hadits dan Keyakinan

Para ulama hadits membedakan hadits berdasarkan kekuatan periwayatannya. Secara garis besar hadits dibedakan menjadi dua: shahih (terpercaya) dan dhoif (lemah). Dalam menetapkan suatu hadits masuk ke kategori mana, hadits dinilai dari ketersambungan riwayat dan pribadi sang perawi.

Terkadang riwayat tersambung hingga Rosululloh s.a.w. tapi ada satu atau lebih perawi dalam jalur periwayatan yang kurang terpercaya sehingga statusnya menjadi lemah. Dapat pula seluruh periwayat terpercaya, tetapi jalur terputus di tengah ataupun ujung.

Ulama juga membedakan hadits berdasarkan jumlah jalur periwayatan. Secara umum, dari banyaknya jalur periwayatan, hadits dibedakan menjadi dua: ahad dan mutawatir. Hadits mutawatir adalah hadits yang jalur periwayatannya sangat banyak pada seluruh level jalurnya. Berapa minimal jumlah jalur periwayatan agar suatu hadits bisa disebut sebagai hadits mutawatir tidak ada standar yang pasti, tergantung masing-masing ulama hadits. Sementara hadits yang jalur periwayatannya tidak terlalu banyak disebut sebagai hadits ahad. Sehingga yang disebut hadits ahad bukan cuma hadits yang memiliki satu jalur periwayatan, namun dapat pula lebih dari satu, yakni 2,3,4 atau lainnya yang belum sampai tingkatan mutawatir.

Yang menjadi perhatian dalam artikel ini adalah bagaimana seharusnya penyikapan kita atas berbagai jenis hadits ini. Ada dua pertimbangan, yakni wahyu dan rasional. Pertimbangan wahyu adalah bagaimana Quran dan sunnah Rosul menunjukkan cara menyeleksi berbagai hadits.

Mana yang lebih kita percayai: berita yang disampaikan oleh sepuluh orang yang tidak kita kenal atau kita kenal sebagai orang yang tidak bisa dipercayai dengan berita dari satu orang yang kita percaya sepenuhnya kejujuran dan kehati-hatiannya dalam menyampaikan berita. Secara rasional, kita lebih memilih berita yang berasal dari satu orang yang kita percayai.

Jumlah pemberi kabar memang mempengaruhi tingkat kepercayaan kita pada suatu kabar, tetapi ia merupakan faktor sekunder. Faktor yang primer dalam menentukan kepercayaan kita pada suatu kabar adalah pada tingkat kepercayaan kita pada penyampai kabar.

Kepercayaan kita pada pemberi kabar dibangun dari informasi masa lalu pemberi kabar yang kita ketahui sendiri maupun kesaksian orang lain mengenainya. Pengalaman diri kita sendiri tidak cukup untuk menentukan penilaian terhadap seseorang, karena bisa jadi orang tersebut bersikap beda dengan diri kita karena ia memiliki kepentingan terhadap kita. Oleh karena itu kita perlu membandingkan kesaksian banyak orang untuk menentukan penilaian akhir terhadap seseorang.

Apabila seseorang sama sekali tidak kita kenal dan tiada orang lain yang mengenalnya, maka kita sama sekali tidak bisa menentukan penilaian terhadap orang tersebut. Kita akan ragu untuk menerima sepenuhnya kabar yang dibawanya, namun juga tidak bisa serta merta menolaknya.

Dalam permasalahan agama, prinsip kehati-hatian diterapkan. Berita apapun harus diteliti kadar kepercayaannya. Untuk itu hanya berita terpercaya (sahih) saja yang dapat diterima untuk menimbulkan konsekuensi agama. Berita yang jelas dipastikan kepalsuannya tentu saja langsung ditolak. Sementara berita yang meragukan tetap tidak dapat diterima untuk menimbulkan konsekuensi agama. Oleh karena itu, paling jauh berita-berita yang meragukan ini hanya diterima bila ia tidak bertentangan dengan berita yang dipercaya dan tidak menimbulkan konsekuensi dalam agama.

Ulama memakai kabar israiliyat hanya untuk membantu menafsirkan Al-Qur’an bila ia tidak bertentangan dengan kabar lain yang lebih sahih. Namun pemakaian kabar israiliyat ini sama sekali tidak menimbulkan kewajiban amalan maupun pengimanan. Sebagian ulama menerapkan standar yang lebih ketat dengan tidak memakai sama sekali kabar yang meragukan ini.

Perbedaan sikap terhadap tipe-tipe hadits berdasarkan kadar kepercayaannya berkonsekuensi munculnya perbedaan ajaran. Sebagian kelompok Islam masih mengizinkan pemakaian hadits-hadits yang terkategori lemah dalam pengambilan hukum dan penyampaian ajaran agama. Pada sisi ekstrim yang lain, ada pula kelompok pemahaman yang menganggap bahwa selain Al-Quran dan hadits mutawatir, tidak boleh diambil sebagai dasar keimanan. Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir, yakni hadits ahad, walaupun terkategori shahih, isinya tidak bisa diimani, namun hanya bisa dimanfaatkan dalam menetapkan hukum (fiqih).

Pengambilan hadits dhoif sebagai dasar ajaran agama berisiko untuk menerima ajaran yang sebenarnya bukan ajaran Muhammad s.a.w. Memang tidak semua hadits dhoif merupakan hadits palsu. Sebagian hadits dhoif merupakan hadits yang pada tingkat diragukan karena kelemahan periwayat maupun keterputusan jalur periwayatan. Namun prinsip konservatif perlu diterapkan dalam agama. Firman Alloh s.w.t. menyebutkan bahwa kepercayaan terhadap dzon adalah sikap orang-orang kafir. Bahkan secara tegas, firman Alloh menyebutkan bahwa dzon tidak memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai kebenaran. Sementara agama haruslah berisi kebenaran, maka ia tidak boleh didasarkan pada sesuatu yang masih terkategori dzon.

Dengan alasan yang sama, sekelompok orang menolak hadits ahad sebagai dasar keimanan. Mereka menganggap bahwa hadits ahad hanya menimbulkan dzon, tidak menimbulkan keyakinan. Oleh karenanya, hadits ahad tidak boleh dipakai sebagai dasar keimanan.

Celah dalam pernyataan di atas adalah mengenai penetapan hadits ahad sebagai hanya menimbulkan dzon, tidak menimbulkan keyakinan. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa jumlah yang semakin banyak memang menambah keyakinan kita terhadap suatu kabar, namun penambahan keyakinan karena jumlah ini hanya sedikit dan tidak bisa menggantikan syarat kepercayaan pembawa kabar. Sebaliknya, kabar dari seorang yang terpercaya cukup untuk menimbulkan keyakinan selama ia tidak bertentangan dengan kabar dari orang terpercaya lainnya. Bila terkesan ada pertentangan antara kabar yang dibawa oleh dua atau lebih orang yang sama-sama terpercaya, maka sebelum menolak salah satu kabar, terlebih dulu harus dipastikan bahwa memang kedua kabar itu saling bertentangan. Siapa tahu sebenarnya kedua kabar tersebut menjelaskan hal yang berbeda atau berlaku pada kondisi khusus sehingga kedua kabar tersebut tidak saling bertentangan.

Dalam kasus hadits ahad shahih yang terkesan bertentangan dengan Al-Quran, maka perlu dipastikan terlebih dulu bahwa hadits tersebut memang bertentangan. Karena bisa jadi hadits tersebut merupakan suatu pengkhususan, atau menambahkan sesuatu yang memang belum diterangkan oleh Al-Quran. Ketika Al-Quran tidak menerangkan adzab kubur dan kedatangan Dajjal, tidak berarti Al-Quran menolak eksistensi keduanya. Sebagaimana Rosululloh dapat menetapkan hukum yang belum ditetapkan oleh Al-Quran, maka Rosululloh bisa saja membawa kabar gaib yang belum diterangkan oleh Al-Quran. Ketika tidak ada pertentangan yang jelas antara Al-Quran dan hadits sahih ini, maka tidak ada alasan untuk menolak kabar gaib yang terdapat dalam hadits sahih.

Hingga saat ini, saya belum menemui hadits sahih yang secara jelas bertentangan dengan isi Al-Quran. Kalau memang ada, baru bisa kita tolak isi hadits tersebut. Tapi kembali lagi, kita perlu berhati-hati dalam menetapkan eksistensi pertentangan tersebut. Karena konsekuensinya dua hal, yang ringan adalah kita meragukan periwayat yang disaksikan oleh banyak orang sebagai terpercaya, dan yang berat adalah kita menuduh Rosululloh telah mengajarkan hal yang saling bertentangan. Karena konsekuensi kedua tidak mungkin kita ambil, maka biasanya kita lebih suka meragukan periwayatnya. Keraguan yang paling ringan adalah keraguan terhadap ingatan periwayat, bukan keraguan atas kejujurannya.

Penolakan terhadap hadits sahih karena matan (isi) hadits yang bertentangan dengan Al-Quran saja harus diterapkan secara hati-hati. Kemungkinan pertentangan itu pun sangat kecil.

Namun tidak demikian halnya dengan penolakan terhadap hadits atas dasar matan yang bertentangan dengan rasionalitas, karena tidak ada standar atas rasionalitas. Pada pertentangan pendapat atas suatu permasalahan, masing-masing pendapat senantiasa bisa memberikan rasionalitasnya. Pada satu waktu tertentu mungkin rasionalitas satu pendapat unggul atas pendapat lainnya. Namun pada waktu lain bisa saja pendapat yang berseberangan menemukan rasionalitas baru yang mengungguli pendapat yang sebelumnya lebih kuat.

Oleh karena itu, kita tidak pernah bisa menggunakan rasionalitas untuk menyeleksi kesahihan hadits. Sebaliknya Al-Quran dan hadits sahih yang seharusnya kita gunakan untuk menyeleksi kesahihan cara dan hasil berpikir kita.

Baca selengkapnya..

Friday, May 11, 2007

Mempertanyakan Analisis Biaya-Manfaat Program dan Proyek Pemerintah

Isu ekonomi yang mengemuka dari hari ke hari adalah mengenai ekonomi makro, perdagangan, daya saing industri, pengangguran, dan kemiskinan. Padahal, banyak isu teknis yang berpengaruh pada keberhasilan upaya pembangunan ekonomi Indonesia, salah satunya adalah efisiensi program dan proyek pemerintah.

Pemerintah Indonesia menghimpun dana dalam jumlah besar untuk membiayai penyediaan barang dan layanan publik serta program pembangunan. Alokasi dana tersebut sangat berperan menentukan berapa banyak yang dapat dicapai oleh pemerintah. Oleh karenanya, pemerintah membutuhkan alat analisis untuk menentukan prioritas program dan proyek yang dijalankan pada suatu tahun anggaran.

Di sisi lain, birokrasi memiliki kecenderungan untuk memperbesar kebutuhan sumber daya dalam mencapai tujuan yang dibebankan pada mereka. Birokrasi senang memperbesar estimasi manfaat tidak langsung dan memperkecil eksternalitas negatif agar semakin banyak program atau proyek yang disetujui dan dibiayai. Akibatnya banyak program atau proyek yang dilaksanakan bukan program atau proyek yang paling efisien untuk mencapai manfaat yang sama atau bahkan sebenarnya memiliki manfaat bersih yang negatif.

Baca selengkapnya..

Peran Akal, Rasa, dan Informasi


Keunikan sekaligus keunggulan utama manusia dari mahluk lain adalah rasionalitasnya. Akalnya membuatnya mampu memilah, menghubungkan, dan mengkodifikasi pengetahuannya ke dalam ilmu.

Kemampuan potensial dan aktual akal manusia tidak sama satu dengan lainnya. Perbedaan ini terkadang merupakan pembawaan sejak lahir, ada yang memiliki bakat intelegensi luar biasa, dan ada yang sulit berkonsentrasi dan menangkap informasi dari luar. Lebih sering perbedaan kemampuan akal terjadi karena perbedaan upaya untuk mengoptimalkan penggunaan akal.

Seorang dalam mengambil keputusan menggunakan akal dan rasa. Akal menimbang benar-salah dan baik-buruk. Rasa menimbang suka-benci dan semangat-malas. Saat-saat tertentu akal dan rasa berjalan seiring, namun saat lainnya keduanya berseberangan.

Akal memerlukan informasi sebagai bahan yang diolah menjadi kesimpulan. Informasi ini bisa datang dari imaginasi, berita benar, berita palsu, pengamatan, firman Tuhan, dll. Informasi tersebut dapat diperingkat menurut kadar keterpercayaannya.

1. Firman Tuhan
2. Pengamatan (dari ayat-ayat kauniyah: manusia dan alam semesta)
3. Berita benar
4. Berita palsu
5. Imaginasi

Walaupun firman Tuhan dan alam semesta sama merupakan ayat Alloh, namun firman Tuhan lebih terdefinisi dan lebih mudah dicerna akal daripada ayat kauniyah karena sudah dalam wujud kata-kata. Walaupun masih terdapat kemungkinan tafsir yang beragam atas kata-kata tersebut, namun tafsir tersebut dibatasi oleh makna ayat. Karena tidak bisa dikatakan sebagai tafsir ketika bertentangan dengan makna harfiah ayat. (baca juga di blog ini: Al-Quran tidak multitafsir)

Sebaliknya, pengamatan manusia terbatasi oleh banyak hal. Ada hal-hal yang tidak bisa diindera oleh manusia, bisa jadi karena sangat kecil, sangat besar, dibiaskan oleh interferensi sebelum sampai ke indera, dll. Studi cross-section tidak akan mampu mencakup seluruh alam semesta ini , dan studi time-series tidak akan mampu mencakup seluruh sejarah dan masa depan umat manusia. Karenanya, bila hanya menyandarkan pada pengamatan ayat kauniyah, kemungkinan besar perbedaan pendapat di antara manusia tidak akan pernah selesai.

Berbeda dengan ayat kauliyah yang masih terjangkau oleh manusia. Al-Quran "hanya" 30 juz, yang bisa dibaca hingga selesai dalam waktu satu hari. Hadits-hadits Rosululloh masih bisa diakses dengan mudah, apalagi dengan adanya software yang memudahkan kita untuk mencari hadits2 dengan topik tertentu. Mencapai kesepakatan jauh lebih mudah apabila kita bersandar pada firman Alloh 'Azza wa Jalla.

Otentisitas Al-Quran tidak bisa dibantah. Tidak ada kitab agama lampau yang lebih kuat bukti-bukti otentisitasnya dibanding Al-Quran. Hadits-hadits shahih pun sudah melalui penyeleksian yang sangat kuat. Tidak ada manusia yang kata-katanya direkam begitu banyak dan diteruskan melalui jalur yang jelas dan periwayat yang sangat jelas asal-usulnya sebagaimana Rosululloh Muhammad s.a.w.

Metode periwayatan hadits ini dapat kita terapkan untuk menyeleksi berita-berita yang ada sekarang ini untuk menguji kebenarannya. Sehingga kita tidak mengambil penilaian dan keputusan atas dasar informasi yang tidak akurat.

Hal yang paling lemah sebagai dasar keputusan adalah imaginasi. Tidak ada manusia berakal sehat yang membenarkan suatu dakwaan atas dasar imaginasi. Namun terkadang para pemikir terjerumus ke jebakan imaginasinya. Menyeleksi mana di antara pemikiran yang merupakan buah nalar dan informasi yang shahih dan mana yang sekedar imaginasi dan dugaan adalah tugas para intelektual/'ulama.

Baca selengkapnya..

Beda Orang Beriman dan Munafik

Dalam hadits marfu' mutawatir yang diriwayatkan oleh Asma r.a. dalam kitab Shahih Muslim, Rosululloh s.a.w. pernah berkhutbah setelah sholat gerhana matahari,

"...Telah diwahyukan kepadaku, bahwa kalian akan menerima ujian dalam kubur yang hampir menyerupai fitnah atau seperti fitnah Masih Dajjal, aku tidak tahu apa ia sebenarnya. Asma melanjutkan: Seseorang di antara kalian didatangkan dan ditanya: Apa yang engkau ketahui tentang orang ini (maksudnya Rasulullah. Orang yang beriman akan menjawab: Dia adalahMuhammad utusan Allah, yang datang kepada kami dengan membawa bukti dan petunjuk. Lalu kami menyambut dan mematuhinya. (Itu dikatakannya sebanyak tiga kali). kemudian kepadanya dikatakan: Benar! Kami memang tahu bahwa engkau beriman kepadanya. Tidurlah baik-baik! Sedangkan orang munafik atau ragu-ragu akan menjawab: Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu kuikuti saja berkata seperti itu."

Hadits tersebut menunjukkan perbedaan antara orang beriman dan orang munafik atau ragu-ragu dalam keimanannya. Orang beriman mengikuti Rosululloh s.a.w. karena mereka melihat bukti dan petunjuk yang ada padanya, kemudian mereka mentaatinya. Sementara orang munafik atau ragu-ragu mengikutiperkataan orang tanpa bukti dan petunjuk

Bagaimana keadaan diri kita? Apakah kita termasuk orang yang mengikuti Islam ini karena melihat bukti dan petunjuk yang kuat yang dibawa oleh Muhammad s.a.w., atau kita mengekor orang lain, entah orang tua, guru ngaji, kyai, filsuf, politikus, dan lainnya?

Baca selengkapnya..

Muna dan Be Yourself: Kerancuan Istilah

Ada 2 pengertian yang salah kaprah dan menjadi penghambat seseorang untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.

1. Munafik

Banyak yang mengartikan ini sebagai orang yang sukanya ja-im padahal aslinya ga seperti itu. Apabila orang kelihatan sok suci, nganjurin orang ini-itu, tapi di kala lain dia ketahuan belangnya, melanggar apa yang selama ini dia katakan, ga konsisten.

Aq setuju kalau pelanggaran terhadap apa yang dikatakan adalah hal buruk. Tapi bukan berarti orang yang melakukannya munafik. Setiap manusia, sebaik apapun dia, pasti pernah melanggar prinsipnya, pernah melakukan dosa. Beda orang baik dan buruk hanyalah pada frekuensinya melakukan kejelekan, orang baik lebih jarang melakukannya daripada orang buruk.

Sama seperti orang pintar adalah orang yang lebih jarang melakukan kesalahan daripada orang yang bodoh. Tidak ada orang pintar yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang baik yang tidak pernah melakukan keburukan.

Jadi jangan memvonis munafik pada orang yang sudah banyak melakukan kebaikan dan mengecam suatu keburukan namun di saat-saat tertentu ia melakukan hal sebaliknya.

Banyak orang bertahan dengan keburukannya karena ia menganggap dirinya memang seperti itu. Bila ia tidak melakukannya ia merasa menjadi munafik.

Pun bila ada orang yang tidak melakukan satu keburukan di depan umum, namun melakukannya di saat sendiri, itu memang lebih baik karena ia masih memiliki rasa malu dan orang lain tercegah dari menirunya atau menggunjingkannya. Orang yang tidak malu lagi melakukan keburukan di depan orang lain kemungkinan untuk tobatnya lebih sulit. Dan dampaknya untuk masyarakat lebih buruk, karena bisa jadi ada orang lain yang meniru keburukannya.

2. Be Yourself

Hampir sama dengan kasus munafik. Orang mengatakan "Aku ini memang seperti ini, suka maupun tidak".

Ketika mengatakan seperti ini, ia telah menutup kemungkinan bahwa dirinya bisa berubah. Dan ia sama sekali tidak bermotivasi untuk memperbaiki dirinya.

Manusia diciptakan berbeda dari sisi lahiriah, namun secara batin tiap manusia punya potensi sama. Benar kalau seseorang mengatakan "Rambutku memang kriting", "Hidungku memang pesek", "Tubuhku memang pendek". Tapi tidak benar ketika ia mengatakan "Aku memang pemalas", "aku memang pemarah", "aku memang pendendam", "aku memang tidak sopan", "aku memang tidak rapi".

Yang harus kita pahami ketika kita merasa sulit merubah diri kita adalah proses pembentukan karakter kita telah bertahun-tahun, mungkin sejak bayi karena pengaruh dari keluarga. Untuk merubahnya tentunya perlu waktu bertahun-tahun pula.

Jadi sabarlah, dan pantang menyerah untuk mengevolusi karakter (akhlaq) diri.

Baca selengkapnya..

Wajibkah Demokrasi?

Dalam pidatonya yang terkenal dengan Truman's Doctrine, presiden Amerika Serikat kala itu Harry S Truman mengatakan,

"At the present moment in world history nearly every nation must choose between alternative ways of life. The choice is too often not a free one. One way of life is based upon the will of the majority, and is distinguished by free institutions, representative government, free elections, guarantees of individual liberty, freedom of speech and religion, and freedom from political oppression. The second way of life is based upon the will of a minority forcibly imposed upon the majority. It relies upon terror and oppression, a controlled press and radio, fixed elections, and the suppression of personal freedoms."

Begitulah pandangan dari pemimpin negara sponsor terbesar demokrasi abad ini. Ia mencirikan demokrasi sebagai sistem yang didasari atas kemauan mayoritas, selain ciri-ciri lain yang menyertainya. Ia tidak mengklaim bahwa keputusan yang mereka ambil dalam pemerintahan baik dan benar.

Penganut demokrasi memang tidak mempermasalahkan apakah sesuatu itu baik dan benar. Asalkan sesuatu itu dimaui oleh mayoritas, maka dengan sendirinya hal itu baik. Ungkapan extrimnya adalah "Vox populi vox dei" = suara rakyat suara Tuhan. Kebenaran adalah yang datang dari mayoritas rakyat.

Kaum relativis saja tetap konsisten dengan kebenaran yang ia pegang. Hanya saja ia tidak mau menyalahkan orang lain yang berbeda. Karena bagi mereka kebenaran mirip seperti kecantikan, relatif bagi setiap orang.

Lah, demokrasi malah tidak peduli dengan kebenaran. Yang penting adalah keinginan (will) bukan kebenaran (truth). Pengutamaan keinginan di atas kebenaran adalah turunan dari prinsip hidup yang mengutamakan kesenangan (hedonisme).

Kalau begitu, level kerancuan pikir para penganut demokrasi ini bisa jadi di bawah penganut relativis ya?

TIDAK HANYA DUA JALAN
Mengenai pembagian "way of life" menjadi hanya dua, sebagaimana disebutkan Truman, kita sudah sama-sama tahu bahwa ia terlampau menyederhanakan. Giddens saja sudah membuat buku berjudul "The Third Way". Praktik pemerintahan Islam pada masa Rasululloh saw dan khilafah nubuwwah tidak bisa dikategorikan ke salah satu dari dua jalan yang disebutkan Truman.

Semua sistem dalam kehidupan adalah campuran dari berbagai macam elemen yang membentuk variasinya masing-masing. Dulu memang ada pengkutuban antara sistem kapitalis dan sosialis. Tapi sekarang yang kapitalis jadi agak sosialis (welfare state ala Barat), yang sosialis jadi rada kapitalis (kasus China).

Jadi kalau Islam mau mendefinisikan sistem politik dan ekonominya, tidak perlu diembel-embeli kata demokrasi, kapitalisme, sosialis, dan istilah-istilah lain yang tidak "genuine" datang dari Islam. Ga perlu memaksakan diri membuat istilah "demokrasi islami", "sosialisme religius", "kiri islam", dll.

Pede aja lagi !! Ini lho sistem Islam. Kita mencirikan Ekonomi Islam sebagai plus zakat, minus riba, minus spekulasi. Politik Islam juga ada plus minusnya: plus syariat, plus syuro 'ulama dan ahli urusan umat, plus ketaatan pada pemimpin, serta minus voting dan minus informasi palsu. Aspek lain seperti partisipasi, transparansi, akuntabilitas, memang bisa hadir di sistem Islam maupun demokrasi.

Baca selengkapnya..

Kekeliruan "Protestan Ethic"

Para pemikir di seluruh dunia senantiasa tertarik mempelajari penyebab di balik perbedaan kemajuan yang dialami masyarakat Eropa dan Amerika dengan masyarakat timur, antara umat Yahudi dan Kristen dengan umat lainnya. Beberapa mengajukan tesis bahwa penyebabnya adalah perbedaan budaya kritis, memegang tradisi, sekularisme, dll. Weber menduga bahwa penyebab kemajuan di Amerika Serikat adalah etik Protestan yang sesuai dengan kapitalisme. Apakah benar tesis ini bahwa agama selain Protestan, atau Kristen lebih luasnya, mengandung nilai-nilai yang menghambat kemajuan?

Sejarah peradaban manusia dengan sangat jelas telah menolak tesis ini. Sejarah menunjukkan bahwa tongkat kejayaan peradaban telah berpindah dari satu umat ke umat lain yang memiliki agama atau keyakinan berbeda-beda. Yunani dengan mitologi Zeus dan Hercules, Mesir dengan Dewa Ra, China dengan konfusianisme, Arab dengan Islam, hingga Eropa dan Amerika dengan Kristen, masing-masing pernah memimpin dunia dengan kemajuan peradabannya. Jelas bahwa kemajuan peradaban tidak ada kaitannya dengan ajaran agama atau keyakinannya.

Apa yang sebenarnya menyebabkan perbedaan kemajuan yang dialami masyarakat tidak menjadi minat bahasan. Tulisan ini hanya ingin menolak praduga bahwa perbedaan agamalah yang melatarbelakangi ketimpangan antar masyarakat di berbagai belahan dunia.

Baca selengkapnya..

Sistem Pemerintahan Islami

Bila kita merunut sejarah pemerintahan Islami hingga masa khulafaur rasyidin, kita melihat bahwasanya demokrasi tidak diterapkan di sana. Penerapan demokrasi justru akan merugikan keberlangsungan penyelenggaraan negara Islam. Saat itu da’wah Islam belum melewati satu generasi. Banyak wilayah baru ditaklukkan oleh khilafah Islam. Penduduk wilayah taklukan tersebut masih banyak yang belum memeluk Islam. Kalaupun memeluk Islam, mereka masih banyak yang tergolong munafik, atau masih menyimpan dendam karena keluarga mereka terbunuh dalam peperangan dengan pasukan Islam.

Bila dalam situasi seperti itu diterapkan demokrasi, celah musuh-musuh Islam untuk menguasai negara akan sangat besar. Karena muhajirin dan anshor, sebagai basis massa Islam yang tidak diragukan lagi loyalitasnya, hanya merupakan minoritas dibanding penduduk daulah Islam keseluruhan. Para sahabat juga terkonsentrasi di wilayah Makkah dan Madinah. Bila dilakukan pemilu sistem distrik pada waktu itu, tentunya para sahabat sudah kalah dalam pemilu. Bisa jadi khalifahnya bukan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali rodhiyalloohu ‘anhum, tetapi malah munafik seperti Abdullah bin Ubay.

Permasalahan itu juga bisa terjadi di negara manapun yang penduduknya bukan mayoritas muslim, atau kalau mayoritas muslim tapi bukan muslim yang tunduk dengan syariat, termasuk Indonesia. Maka wajar bila pemimpin yang terpilih dari sistem demokrasi ini tidak memenuhi kriteria minimal pemimpin Islam yang diharapkan. Peraturan yang baru sekedar “berbau” syariat Islam pun sudah ditolak dengan antipati oleh masyarakat muslim sendiri.

Namun di masa lalu juga pernah terjadi pemerintahan Islam yang begitu menindas, contohnya pada zaman Yazid bin Muawiyah. Otoritas mutlak pemerintahan Yazid membuat kesewenang-wenangannya tidak bisa dikekang.
Tentunya kita tidak bisa menggantungkan nasib ummat terhadap individu pemimpin. Sejarah menunjukkan bahwa potensi keburukan dari individu bisa diminimalkan dengan sistem yang baik. Namun apakah sistem tersebut harus demokrasi?

Keunggulan-keunggulan sistem yang sekarang dominan hadir di negara-negara demokrasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa keunggulan tersebut adalah ciri khusus demokrasi yang tidak bisa hadir di sistem selainnya. Prinsip-prinsip transparansi, pertanggungjawaban, dan pengawasan berimbang bisa pula diterapkan di sistem non demokrasi.

Menurutku sistem Islam adalah sistem yang berlandaskan kebenaran dan kemampuan. Sistem yang berlandas kebenaran artinya kebenaran harus menang, walau ia didukung oleh minoritas. . Sistem yang berlandas kemampuan artinya amanah harus dipegang oleh ahlinya, semacam Kabinet Ahli dalam istilah pemerintahan sebagai lawan dari kabinet koalisi yang berorientasi kompromi politik.

Sistem yang berlandas kebenaran dan kemampuan tetap dapat menerapkan prinsip-prinsip good governance. Masyarakat umum berfungsi sebagai pengawas, evaluasi, masukan, tetapi tidak menentukan aturan. Masyarakat diatur, bukan mengatur. Pembuat aturan adalah mereka yang menguasai masalah dan yang paling konsisten menegakkan aturan tersebut. Aturan tidak boleh dibuat oleh mereka yang suka melanggarnya.

Penguasa tidak bisa otoriter, karena begitu ia menunjukkan kelemahannya, maka kekuasaannya bisa dicabut. Siapa yang mencabut? Yang berwenang untuk mencabut kekuasaan dari penguasa adalah badan musyawarah yang terdiri dari para ahli di berbagai bidang, dengan syarat minimal memiliki akhlak dan ilmu agama yang cukup.

Bagaimana proses peralihan dari sistem demokrasi saat ini ke sistem tersebut? Sistem demokrasi sekarang ini memfasilitasi perubahan ke sistem baru dengan menetapkan orang-orang yang akan membuat aturan main baru. Sama seperti pemerintahan orde baru yang otoriter memfasilitasi reformasi dengan membuat pemilu yang demokratis dan membuat lembaga-lembaga kelengkapan yang mendukung reformasi tersebut, seperti KPU, KPK, ombudsman, dll.

(dipublish ulang dari versi asli di denoenk.blogs.friendster.com yang dimuat pada 5-9-2006)

Baca selengkapnya..