Ulul Albab

MEMIKIRKAN AYAT-AYAT ALLOH

Friday, January 11, 2008

Bersama Mencapai Kejayaan Islam

Ummat Islam saat ini relatif lebih lemah dibandingkan umat Nasrani dan Yahudi di bidang ekonomi, politik, dan militer. Kesadaran akan kelemahan umat ini mendorong tumbuhnya berbagai gerakan dan pemikiran yang bertujuan mencapai kejayaan Islam. Keragaman gerakan dan pemikiran timbul karena masing-masing hidup pada wilayah yang berbeda dan memiliki prioritas atau strategi yang berbeda.

Semua kelompok tersebut sebenarnya sadar bahwa persatuan ummat dibutuhkan untuk mencapai kejayaan. Akan tetapi dalam praktik sehari-hari, sering terjadi hubungan tidak harmonis antarkelompok tersebut.



Persaingan

Ketidakharmonisan ini muncul karena perbedaan tafsir, persaingan memperoleh pengikut, dan berebut sumber daya. Tiap kelompok perlu menjelaskan argumentasi mengapa tafsir mereka benar dan tafsir yang berbeda adalah keliru. Pandangan bahwa “kita” benar dan “mereka” keliru berkonsekuensi “kita” harus mencegah kaum muslimin dari mengikuti “mereka” dan mengajak kaum muslimin untuk mengikuti “kita”. Konsekuensi selanjutnya, semua kelompok bersaing dalam memperebutkan kaum muslimin dengan kampanye positif dan negatif. Kampanye negatif seringkali menimbulkan ketidaksukaan pada kelompok sasaran dan melukai hati mereka.

Persaingan ini juga mendorong upaya pelemahan akses kelompok lain pada sumber daya yang strategis bagi perkembangan kelompok tersebut. Pada masa sengit-sengitnya perseteruan antara Muhammadiyah dan NU, masjid menjadi rebutan antara keduanya. Di dunia kampus, beberapa gerakan mahasiswa Islam berebut kekuasaan di lembaga-lembaga intra strategis (terutama unit keislaman, lembaga eksekutif, dan lembaga perwakilan). Kelompok yang sedang berkuasa (incumbent) berusaha melanggengkan kekuasaannya dengan membatasi akses kelompok lain pada lembaga tersebut.

Perbedaan dan cara berkompetisi antara kelompok-kelompok perlu dikaji secara sendiri-sendiri dan bersama. Dialog antar kelompok harus dilakukan dengan cara-cara terbaik (bil hikmah, mauizhotil hasanah, bil latii hiya ahsan) agar tidak kontraproduktif. Hasil dari dialog tersebut dapat berupa pemakluman dan penghormatan atas pendapat yang berbeda, sintesis, dan kesepakatan untuk berubah.

Kerjasama

Selain memperbaiki iklim kompetisi dan mendialogkan perbedaan, semua kelompok juga sebaiknya mulai menjajaki kemungkinan kerja sama. Kerja sama dapat mencapai tujuan bersama semua kelompok dengan lebih efektif daripada ketika masing-masing berusaha sendiri. Interaksi antara kelompok yang lebih sering dapat membawa manfaat sampingan yang berupa mencairnya kebekuan hubungan antara mereka.

Ada beberapa isu jangka panjang yang dapat dijadikan isu bersama di antara kelompok Islam mainstream: syariat Islam dan turunannya (anti pornografi, anti aborsi, anti penyimpangan seksual), akidah (anti tradisi syirik, anti ramalan, anti sihir).

Isu-isu yang bisa menjadi dasar kerja sama antara Islam mainstream dengan Islam liberal adalah isu-isu humanisme yang juga menjadi kepentingan bersama dengan agama lain, seperti penanganan bencana alam, pengentasan kemiskinan, pemberantasan KKN, dan penegakan hukum.

Kelompok-kelompok yang memiliki pandangan sama atas suatu isu dapat membentuk koalisi. Isu jangka pendek (seperti penanganan bencana alam, respon atas kebijakan yang jelas merugikan, dll) cukup direspon dengan koalisi jangka pendek. Sedangkan penyelesaian isu jangka panjang (seperti pemberantasan KKN, penerapan syariat Islam, pembebasan Palestina, dll) memerlukan koalisi jangka panjang pula.

Kesimpulan

Perbedaan di antara umat Islam merupakan kenyataan yang tidak bisa kita hindari saat ini. Persatuan umat Islam butuh waktu dan usaha keras. Sebagai bagian dari proses penyatuan umat, kelompok-kelompok Islam bisa mengurangi kompetisi yang saling melemahkan dan meningkatkan kerja sama yang saling menguatkan. Kompetisi harus memenuhi etika muamalah sesama muslim. Kerja sama sebaiknya diarahkan pada isu-isu bersama jangka panjang. Dengan demikian, semoga kejayaan Islam akan semakin dekat.


Baca selengkapnya..

Saturday, June 09, 2007

Selain Islam Masuk Surga?

Sekelompok orang berpendapat bahwa surat Al-Maidah ayat 69 merupakan dalil bahwa penganut agama selain Islam dapat masuk surga bila mereka beramal shalih. Berikut saya kutipkan penjelasan Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diambil dari situs www.al-manhaj.or.id

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Allah I berfirman di dalam Al-Qur'an surat Al-Imran : 85

"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima"

Sementara dalam surat Al-Maidah : 69 disebutkan.

"Artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, dan orang-rang Nasrani apabila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih, maka tidak ada ketakutan dan kesedihan yang akan menimpa mereka"

Bagaimana caranya kita memahami dua ayat yang seolah-olah bertentangan ini ?

Jawaban.
Tak ada pertentangan antara dua ayat tersebut. Ayat pertama Ali Imran : 85 berlaku bagi kaum yang telah sampai da'wah Islam kepada mereka, sedangkan ayat kedua Al-Ma'idah : 69 berlaku bagi kaum yang hidup pada zaman mereka masing-masing (dengan cara mengikuti syari'at dari nabi/rasul mereka masing-masing, -pent-).


Adapun tentang shabi'in (shabi'ah) yang dikenal selama ini sebagai penyembah bintang, sebetulnya mereka dulunya adalah orang-orang yang bertauhid (dan mengikuti syari'at sebagian para rasul, -pent), akan tetapi setelah lewat masa yang panjang, sedikit demi sedikit mereka terjatuh ke dalam kemusyrikan dan akhirnya mereka menyembah bintang. Hal ini sama saja dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hari ini juga semuanya sudah terjatuh dalam kemusyrikan.

Nah... siapapun diantara mereka (shabi'ah, Yahudi , Nasrani) yang berpegang teguh dengan agamanya masing-masing dan mereka hidup sebelum datangnya Islam, maka mereka tidak akan ditimpa ketakutan dan kesedihan. Dan mereka adalah termasuk orang-orang yang beriman. Akan tetapi, setelah Allah I mengutus Nabi Muhammad r dan dakwah Islam telah sampai kepada mereka, maka Allah tidak akan menerima agama mereka sebelum mereka masuk Islam.

Saat ini... ada satu masalah yang sangat besar yang menimpa sebagian kaum muslimin, yaitu orang-orang yang mengira bahwa mereka telah memeluk agama Islam dan telah menjalankan syari'at Islam tetapi sebenarnya mereka telah keluar dari Islam dan telah jatuh dalam kekafiran karena aqidah dan keyakinan mereka telah sesat dan menyimpang, sehingga membatalkan ke-Islam-an mereka. Mereka itu adalah kelompok Islam 'Ahamdiyah Qodiyan' yang berkeyakinan bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad r.

Mereka ini sudah tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sudah disebutkan dalam surat Al-Maidah : 69 di atas, karena hujjah sudah tegak di hadapan mereka. Apabila mereka mengaku sebagai muslim, tentu mereka telah membaca/mendengar dari Al-Qur'an dan hadits tentang bagaimana prinsip-prinsip aqidah Islam.

Adapun orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar dakwah Islam, maka orang seperti ini tidak akan langsung divonis masuk neraka oleh Allah I.

Orang yang meninggal dalam keadaan belum pernah mendengar dakwah Islam sama sekali akan mendapat perlakuan khusus dari Allah di akhirat dengan mengutus seorang rasul kepada mereka. orang-orang ini akan diuji oleh Allah lewat rasul tersebut, seperti Allah telah menguji manusia di dunia. Apabila orang-orang tersebut menyambut seruan rasul dan mentaatinya maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. Jika tidak, maka dia akan masuk neraka. [Ash-Shahihah No. 2468]

[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]


Baca selengkapnya..

Ideologi Melawan Agama

Ideologi merupakan seperangkat cara pandang dan keyakinan atas suatu permasalahan. Cara pandang dan keyakinan tersebut diturunkan secara deduktif dari agama dan filsafat, maupun secara induktif berupa hasil perenungan atas masalah tersebut.

Ideologi memiliki ciri penganutnya memiliki keyakinan yang kuat atas kebenaran ideologi tersebut. Oleh karena itu, penganut ideologi sering melihat keyakinan lain sebagai "musuh" bagi ideologi tersebut. Karena agama merupakan bentuk keyakinan yang kuat dan memiliki pengikut terbesar, maka agama kerapkali dijadikan musuh ideologi.

Perlawanan ideologi terhadap agama dilakukan dengan beberapa cara:

1. Menjauhkan manusia dari agama
Ini adalah perlawanan yang paling frontal ideologi terhadap agama. Komunisme pernah melakukannya dengan ungkapannya "agama itu candu". Penganut komunisme sangat memusuhi pemimpin-pemimpin agama dan berusaha menjauhkan pengikut komunisme dari agama.

Demikian pula, liberalisme, modernisme, dan sekularisme di Barat telah menjauhkan orang-orang dari agama. Agama dianggap tradisi yang bertentangan dengan semangat modernisme. Agama adalah keyakinan yang mengikat pemeluknya dari berpikir bebas dan bereksperimentasi yang merupakan sumber kemajuan. Agama yang menjadi hukum negara mendorong terjadinya diskriminasi dan absolutisme penguasa.

2. Merubah agama
Ketika di zaman modern banyak orang mengalami kegersangan dan kehilangan makna hidup, kembali ke jalan agama menjadi tren di seluruh belahan dunia. Mereka yang berusaha menghidupkan kembali agama disebut oleh pemikir Barat sebagai kaum revivalis dan fundamentalis.

Karena tren ini tidak bisa dielakkan, maka para ideolog merubah strategi perlawanan dari frontal menjadi kooperatif. Kini para ideolog berusaha menyusupkan pemikiran mereka ke dalam agama. Tafsir atas teks-teks agama perlu "disesuaikan" agar bisa menampung nilai-nilai dalam ideologi mereka. Maka muncullah tafsir-tafsir baru dalam agama yang telah disesuaikan dengan ideologi-ideologi tersebut.

Tafsir-tafsir baru dalam Islam dikenal antara lain adalah
- Islam Liberal: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut liberalisme
- Islam Feminis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut feminisme
- Sosialisme Islam: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut sosialis
- Islam Demokratis: modifikasi Islam yang dilakukan oleh penganut demokrasi

Cara penafsiran yang dilakukan oleh penganut ideologi-ideologi tersebut memiliki ciri tafsir parsial, yakni pemilihan ayat-ayat atau hadits yang sesuai dengan ideologi mereka. Dalam mengembangkan tafsir ideologis tersebut, para penganjurnya senantiasa membahas ayat dan hadits yang cocok dengan ideologi mereka.

Sementara, ayat dan hadits yang bertentangan dengan ideologi mereka tidak pernah mereka singgung sama sekali. Ketika ditanyakan pada mereka mengenai ayat dan hadits yang tidak sejalan tersebut, mereka biasanya mengatakan bahwa ayat dan hadits tersebut sudah tidak relevan dengan konteks zaman sekarang.

Ciri kedua adalah mereka menamakan tafsir mereka sebagai tafsir rasional, yang tidak lain adalah tafsir yang mengedepankan akal dibanding wahyu. Tafsir rasional ini, sebagaimana di nyatakan Ulil, apabila menghadapi pertentangan wahyu dengan akal, maka wahyu tersebut harus ditakwil.

(Penulis blog ini menyangsikan apa yang dimaksud dengan takwil ini. Bagaimana mungkin suatu pernyataan dalam wahyu bisa ditakwil sedemikian rupa sehingga hasil takwilnya bisa bertentangan dengan makna harafiah pernyataan tersebut? Takwil dan tafsir berusaha menjelaskan maksud dari suatu pernyataan tertulis maupun lisan. Suatu penjelasan TIDAK MUNGKIN bertentangan dengan makna harafiah pernyataan yang dijelaskan.)

Baca selengkapnya..

Sunday, May 27, 2007

Studi Kritis Metode Penafsiran Islam Liberal (1)

Mulai saat ini, saya berencana melakukan studi kritis terhadap metode penafsiran Islam Liberal. Hipotesis saya adalah metode penafsiran Islam Liberal adalah kabur dan atau tidak konsisten. Dengan ungkapan yang lebih ekstrim, Islam Liberal tidak memiliki metodologi. Yang dimiliki oleh Islam Liberal hanyalah "keyakinan" terhadap beberapa pokok yang tidak memiliki dasar argumentasi kuat.



Keyakinan-keyakinan dasar Islam Liberal terdapat pada website mereka http://islamlib.com/id/tentangkami.php yang dicuplik berikut ini. Pada tulisan ini, saya hanya akan memberikan komentar singkat (tulisan berwarna dan miring) terhadap keyakinan yang mereka jelaskan. Pada tulisan-tulisan berikutnya, saya akan membahas secara lebih rinci poin-poin keyakinan itu, dengan contoh-contoh tulisan dari anggota Islam Liberal yang menjelaskan poin keyakinan tersebut.

----------------------

1. Apa itu Islam liberal?

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

aksioma-aksioma (akidah) yang menjadi landasan ini apa sumbernya?

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

Bila yang dimaksud dengan "tidak berijtihad" oleh Islib ini adalah hukum yang telah berlaku sejak generasi awal umat Islam (Islib menyebutnya sebagai Islam konservatif), maka kenyataannya hingga sekarang Islam konservatif masih bertahan tanpa "ijtihad" yang dilakukan oleh Islib ini. Jadi, tidak perlu "ijtihad ala Islib" agar Islam mampu bertahan di segala cuaca.

Apa yang dimaksud rasional di sini? Semua orang memakai rasio-nya dalam berijtihad. Namun ada yang rasio-nya keliru dan ada yang tepat.

Seluas apa ijtihad yang dimaksud? Apakah ijtihad boleh bertentangan dengan makna harafiah teks sumber hukum Islam: Quran dan Hadits?

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur'an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

Ini kaidah tafsir yang umum dipakai. Namun apakah bisa dikatakan sebagai tafsir apabila bertentangan dengan makna literal teks? Pernyataan A yang bertentangan dengan pernyataan B tidak mungkin merupakan penjelasan (tafsir) atas pernyataan B tersebut.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

Kemungkinan bukan hanya terdiri dari angka 0 dan 1, ada kisaran rendah ke tinggi. Jadi ada tafsir yang 0% kemungkinan benarnya dan ada yang 99% kemungkinan benarnya. Tafsir yang bertentangan dengan makna literal pernyataan yang ditafsirkan 0% kemungkinan benarnya.

Penafsir yang membawa kepentingannya dalam menafsirkan pesan, akan membuat tafsir tersebut bias, yakni tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari penyampai pesan.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

Oke, kita semua mendukung penegakkan keadilan dan pembelaan kaum tertindas. Tapi "minoritas" dan "dipinggirkan" tidak sama dengan tertindas, sebagai contoh: pelaku kriminal adalah orang yang minoritas dan sangat terpinggirkan, namun justru mereka yang menindas orang lain.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

apa dasar keyakinan mengenai hak tersebut?

apa dasar dari tidak membenarkan (=menyalahkan) ini?

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Argumentasinya harus diperinci, mengapa agama HARUS menjadi urusan privat, dan mengapa urusan publik HARUS melalui proses konsensus?

----------------

Baca selengkapnya..

Saturday, May 26, 2007

Kerancuan Islam Liberal

Berikut adalah rekaman diskusi yang sangat bagus antara Yusuf Anshar dengan Ulil Abshor Abdalla yang saya ambil dari e-book yang didownload dari http://www.pakdenono.com/download/Awam.zip

Memang unsur emosi masih dominan di awal diskusi, namun pada akhir-akhir ada metode pengerucutan topik dan pengambilan kesimpulan yang sangat bagus untuk kita tiru. Mungkin ini yang dimaksud dengan "wa jaadilhum billatii hiya ahsan"


Date:Sun, 12 Dec 2004 18:59:35 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:ingin tahu
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Salam sejahtera untuk Anda dan rekan2 semua. Saya ingin mengetahui lebih mendalam tentang pemikiran Islam Liberal. Sejujurnya, saya adalah orang yang awam, yang tidak pernah mengecam pendidikan formal yang tinggi, baik dalam ilmu agama maupun umum. Saya hanya lulus SMA, pernah sempat kuliah di PT dan D3 tapi semuanya putus di tengah jalan. Saya lebih senang belajar mandiri (autodidak) terutama lewat membaca buku-buku, baik buku umum, terutama buku agama (Islam). Oleh karena saya orang awam, saya mengharap uraian Anda tidak dengan bahasa yang sukar (njlimet). Sesuai dengan pesan Rasulullah saw: "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka!" Saya rasa Anda menerima Hadits di atas, karena Hadits tsb agaknya tidak bertentangan dengan ilmu psikologi komunikasi modern. Dan setahu saya JIL menerima hal yg demikian. Mudah2an Anda bersedia membagi pengetahuan dengan saya yg awam ini dan terimakasih sebelumnya.

Wassalam,
Yusuf

Date: Mon, 13 Dec 2004 10:45:36 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject: Re: ingin tahu
To: "yusuf anshar"

Salam,
Silahkan mengunjungi situs JIL www.islamlib.com. Semua bahan-bahan yang anda butuhkan tentang JIL ada di sana.

Selamat membaca!

Ulil

Date:Tue, 14 Dec 2004 17:03:34 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:tentang kalian
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Setelah saya membuka-buka dan menelaah beberapa link dalam situs islamlib (utamanya link "Tentang Kami"), saya akhirnya mengambil kesimpulan mengenai Islam Liberal sbb:

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran terhadap Islam secara bebas dengan mengabaikan aqidah dan qaidah yang ada dalam Islam itu sendiri. Sistim pemikiran seperti ini jelas bathil dan sesat. Kenapa demikian? Begini logikanya:

a. Semua upaya penafsiran (pemikiran) sebebas apapun dia, tentu menggunakan metode, kaidah atau proses berpikir tertentu; kalau tidak demikian, itu bukan tafsir sebagai buah pikir melainkan lebih pantas disebut ngawur, nglantur atau nglindur. Kesimpulannya, tidak ada pemikiran yang bebas nilai, dia harus menggunakan kaidah berpikir tertentu agar diakui sebagai buah dari suatu proses berpikir.

b. Islam memiliki sejumlah nilai-nilai (aqidah dan qaidah) itu pasti (dan itu diakui oleh JIL sendiri), terlepas dari adanya sejumlah perbedaan pendapat terhadap beberapa materi dalam aqidah/qaidah tersebut. Nilai-nilai itulah yang harus digunakan agar buah pemikiran (penafsiran) kita terhadap Islam mendapat pengakuan sebagai bagian dari Islam. Sebagaimana halnya sebuah karya ilmiah dalam bidang ilmu tertentu, tidak akan mendapat pengakuan apa-apa bila tidak menggunakan metode ilmiah yang sesuai dengan bidang pembahasan karya tersebut, apakah itu fisika, sosiologi dan lainnya.

c. Nah, karena JIL tidak menggunakan aqidah dan qaidah Islam secara disiplin dan konsisten (kecuali yang sesuai dengan selera berpikirnya) dalam melakukan penafsiran bagaimana mungkin layak untuk diterima sebagai bagian dari Islam. Bahkan sudah sepantasnya kalau menurut Islam - sekali lagi menurut Islam - JIL adalah sesat dan keluar dari Islam; meskipun menurut pemikiran liberal sah-sah saja. Jadi, bertaubatlah!

"Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Dan peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri..." (QS 6:70)

"Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mendebat ayat-ayat Kami." (QS 7:51)

Wassalam,
Yusuf

Date:Sun, 19 Dec 2004 22:40:10 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: tentang kalian
To:"yusuf anshar"

Salam,
Sebaiknya anda belajar dan membaca lebih banyak agar tidak mudah menganggap bathil suatu ide.

Islam tidak membutuhkan orang-orang yang picik-pikiran dan suka menyesatkan sesama Muslim.

Baca lagi dan baca lebih banyak lagi.

Ulil

Date:Mon, 20 Dec 2004 17:58:17 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:picik
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Saya sangat setuju dengan anjuran anda utk banyak membaca (itu hobi saya). Tapi tolong jawab pertanyaan saya:

Apakah menerima semua pendapat atau tidak menolak satupun pendapat adalah syarat utk terhindar dari picik-pikiran?

Apakah tidak ingin dikatakan sesat bukan salah satu bentuk picik-pikiran?

Lebih jauh lagi (saya ingin tahu aqidah kaum liberal); apakah menurut anda tidak ada dikhotomi antara haq dan bathil, benar dan salah, lurus dan sesat?

Wassalam,
Yusuf

Date:Mon, 20 Dec 2004 19:26:11 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: picik
To:"yusuf anshar"

Salam,
Anda boleh menerima atau menolak pikiran atau ide. Tetapi tidak berhak menyesatkan suatu ide. Itu bukan cara yang baik untuk berdiskusi. Apalagi anda hanya membaca sekelumit pikiran, dan dengan gampang menuduh suatu pikiran yang sekelumit itu sebagai sesat. Ini adalah model Islam a la Hartono Ahmad Jaiz (anda kenal, pengarang buku "Paham Sesat dalam Islam" itu?). Paham Hartonoisme ini yang membuat situasi diskusi dalam Islam menjadi tidak kondusif, karena dengan mudah sesorang disesatkan, dikafirkan, disyirikkan, dst.

Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu, sesat-menyesatkan seperti yang anda lakukan adalah bertentangan dengan semangat dasar Islam sebagaimana dipahami oleh kaum liberal. Kamu mengikuti semangat yang dikembangkan oleh para mujtahid dahulu, "Ra'yuna shawabun yahtamilul khatha', wa ra'yu khashmina khtha'un yahtamilush shawab."

Anda boleh mengkritik paham Islib. Kami juga mengkritik pemahaman kelompok-kelompok Islam lain. Tetapi kami tidak setuju dengan sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan. Sebab, kami menganggap bahwa jalan kebenaran menuju kebenaran adalah banyak. Bukan hanya satu. Islam satu, yes. Tetapi dipahami secara beda-beda. Tuhan satu, yes. Tetapi cara manusia mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda. Qur'an satu, yes. Tetapi tafsirnya beda-beda. Saya menolak anggapan bahwa satu jenis tafsir atau pemahaman adalah paling benar, dan yang lain dianggap sesat.

Islam liberal tidak pernah mendaku, sebagaimana kaum Islam fundamentalis, bahwa dirinya paling benar.

Kita semua adalah "salik", dalam istilah tasawwuf, pejalan-kaki yang sedang mencari kebenaran. sementara jalan menuju kepada kebenaran itu banyak ragamnya.

Terakhir, apakah ada dikotomi antara "haq" dan "bathil"? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya. Orang-orang dengan semangat Hartonoisme akan dengan mudah menuduh bahwa pendapat-pendapat yang berlawanan dengan dirinya adalah bathil. Inilah yang terjadi dalam Islam selama ini: semua kelompok menganggap dirinya yang paling haq, yang lain bathil. Orang Sunni menganggap orang Syiah bathil, begitu juga sebaliknya. Di dalam Sunni sendiri, masing-masing kelompok membathilkan kelompok yang lain. Bagi saya, Islam menjadi buruk citranya karena hal-hal semacam ini.

Islam liberal menghendaki bentuk pemahaman Islam yang lain, yakni pemahaman yang menempatkan semua perbedaan firqah, mazhab, isme, pandangan, ideologi, aliran dan lain-lainnya sebagai sebuah kekayaan Islam, dan tidak boleh disesatkan atau dikafirkan. Hanya dengan begitu Islam menjadi suatu peradaban yang kaya. Islam akan menyempit menjadi agama yang kerdil jika orang-orang yang berpandangan picik bahwa pemahamannya sendiri adalah paling benar (seperti anda?) marak di mana-mana, jika Hartonoisme berkecambah dan bertambah-tambah.

Semoga penjelasan ini mencukupi.

Ulil

Date:Tue, 21 Dec 2004 18:27:55 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:baru awal
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Terima kasih, karena pemahaman saya ttg pemahaman kaum liberal semakin bertambah.

Namun penjelasan anda bukannya mencukupi justru baru merupakan awal dari diskusi kita yg mungkin akan memanjang dan melebar. Saya harap anda tetap bersabar meladeni.

Ungkapan2 yg anda kemukakan memang sepintas cukup indah dan menyejukkan, namun sesungguhnya sangat lemah dan menggelikan. Satu contoh saja: imbauan anda agar tidak ada yg disesatkan atau dikafirkan karena Tuhan satu tapi cara mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda; kita adalah pencari kebenaran dan jalan utk menuju kebenaran itu banyak ragamnya. OK!

Taruhlah, jalan menuju Tuhan dan Kebenaran itu beragam dan berbeda-beda, tapi apakah diantara sekian banyak jalan itu tidak ada yang sesat? Apakah aliran "seks bebas" dan "bunuh diri massal" dengan alasan ritual penyembahan kpd Tuhan, tidak bisa dikatakan sesat?

Bisa saja anda dengan kemampuan berolah-kata sedemikian rupa dapat mengelak penggunaan cap "sesat" terhadap aliran seperti itu; dengan mengatakan itu adalah bentuk "pencarian Tuhan yg belum selesai" atau "kebebasan berekspresi di hadapan Tuhan yg kebablasan" atau "puncak kegilaan manusia dalam ber-Tuhan" dan seabrek jungkir-balik dansa bahasa yg lainnya; namun saya kira kita dan ummat manusia sedunia tetap saja lebih mudah menerima penggunaan kata "sesat" thd mereka.

Nah, kalau kita (atau kebanyakan kita) bisa menerima cap "sesat" thd golongan2 "kebablasan" semacam itu, mengapa kita harus menolak penggunaan kata "sesat" thd sejumlah golongan2 tertentu meski dg kadar dan tingkat kesesatan yg berbeda-beda? Spt ungkapan Tuhan dlm al-Quran ttg "kecondongan yg sedikit" dengan kalimat "... laqad kidta tarkanu ilaihim syaian qalilan" [QS 17:74] dan "kesesatan yg jauh" dengan kalimat "... faqad dhalla dhalalan ba'idan" [QS 4:116].

Itu hanya satu contoh komentar saya thd uraian anda. Komentar2 yg lainnya saya simpan dulu agar diskusi kita tidak terlalu memanjang dan melebar.

Di atas saya katakan ini baru awal dari diskusi kita karena saya melihat titik pangkal pembicaraan yg mudah2an bisa mengurai benang atau jaring kusut dari pemikiran "Jaringan Ummat Liberal" (usul saya JIL berganti nama dulu menjadi JUL). Titik awal diskusi kita adalah ucapan anda: ".... apakah ada dikotomi antara haq dan bathil? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya." Yah, itulah masalah dasarnya. Kalau begitu, apa defenisi kaum liberal sendiri ttg al-haq dan al-bathil?

Wassalam,
Yusuf

Date:Tue, 21 Dec 2004 19:39:49 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: baru awal
To:"yusuf anshar"

Salam,
Setahu saya, yang suka bermain silat lidah, dan bermain dengan retorika bahasa yang seolah-olah meyakinkan adalah kaum fundamentalis. Ayat dan hadis kerap dihambur-hamburkan. Satu dua kalimat langsung penuh sesak dengan kutipan-kutipan dari Kitab Suci. Seolah-olah suatu pembicaraan yang penuh dengan ayat suci akan benar dengan sendirinya.

Saya belajar di pesantren. Pengalaman yang saya perolah dari pesantren adalah: kiai-kiai saya jarang mengutip ayat dan hadis, karena mereka khawatir keliru menafsirkan. Paling jauh mereka mengutip pendapat ulama atau kiai yang lain. Kalau pun keliru, tak apa-apa, toh mereka manusia. Itulah pengalaman yang membekas pada diri saya hingga sekarang. Dan itulah yang membuat saya agak "muak" melihat kaum fundamentalis di kampus-kampus yang setiap bicara selalu memercikkan ayat dan hadis di mana-mana.

Ayat dan hadis bisa mengalami inflasi jika diobral dengan cara demikian.

Kembali ke pokok soal yang anda (saya tak mau pakai kata "antum" a la kaum fundamentalis di Jakarta) persoalkan. Soal kebebasan menafsir.

Kebebasan menafsir sudah menjadi kenyataan dan fakta dalam sejarah pemikiran Islam. Itu terjadi dari sejak zaman sahabat dan makin berkembang pada generasi-generasi ulama yang datang belakangan. Ribuan tafsir dari pelbagai sudut pendekatan ditulis oleh ulama. Ada tafsir yang liberal atau yang literal. Ada tafsir dengan pendekatan sufi yang sangat "bebas" dan ada tafsir "bil ma'tsur" a la "al-Durr al-Mantsur" yang sangat taat dengan pemahaman harfiah.

Ribuan tafsir itu tak mungkin ditulis jika tak ada kebebasan berpendapat dan berpikir dalam Islam.

Yang saya kaget, umat Islam sekarang, yang umumnya tak belajar tradisi pemikiran Islam yang kaya, tiba-tiba membenci kebebasan berpikir. Ada-ada saja alasannya. Salah satu alasannya: kebebasan berpikir itulah yang menyebabkan Iblis terjatuh dan sesat. Sebab Iblis memakai pikirannya sendiri dan menolak perintah Tuhan. Ketauhilah saudaraku, argumen ini sudah pernah dipakai oleh para ulama dahulu yang menentang penggunaan qiyas atau silogisme, tetapi toh ulama lain tak terpengaruh dengan pendapat ini, dan tetap menganggap qiyas sebagai salah satu asas penting dalam istinbath hukum.

Alasan lain yang paling populer, dan tampaknya di sinilah anda (sekali lagi bukan "antum") terjatuh, adalah bahwa jika kebebasan berpikir dibiarkan, maka orang akan cenderung kebablasan. Apakah demi kebebasan berpikir "seks bebas" dihalalkan? Apakah demi kebebasan, cara-cara ibadah dengan bunuh diri massal diperbolehkan? Kalau semua pendekatan kepaa Tuhan adalah sah, apakah cara "gila" yang ditempuh oleh sekte seperti "Ranting Daud" itu absah?

Dan seterusnya.

Saya sungguh heran dengan tanggapan semacam ini. Orang-orang yang berjuang untuk tagaknya kebebasan pikiran, baik di Barat atau di Timur, tidak pernah berpikir bahwa hal itu untuk menghalalkan "seks bebas". Yang patut dicurigai adalah, kenapa soal seks begitu mengganggu pikiran umat Islam. Apakah mereka begitu "ngeres" pikirannya, sehingga dipenuhi dengan seks melulu?

Kenapa hal yang pertama terlintas di pikiran anda begitu mendengar soal "kebebasan berpikir" adalah soal seks? Apakah anda mempunyai masalah dalam hal ini (maaf)?

Semua agama, bukan hanya Islam, mengharamkan zina. Semua agama mengharamkan pembunuhan, pencurian, berbohong, menipu, bersikap tak hormat pada orang tua, dst. Apa yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement) adalah merupakan ajaran-ajaran yang universal, bukan saja dalam agama Yahudi tetapi juga Islam dan agama-agama lain. Praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar.

Di negeri-negeri yang menjunjung tinggi pemikiran yang bebas, pencurian dan pembunuhan tidak dengan sendirinya halal demi kebebasan berpikir.

Di sinilah saya percaya, bahwa akal manusia dan wahyu Tuhan sebetulnya bertemu dalam satu titik. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taymiyah sebagai "Muwafaqat Sharihil Ma'qul li Shahihil Manqul".

Bagaimana jika wahyu dan akal bertentangan?

Saya mengikuti pendapat Ibn Rushd, seorang filosof dan ahli fikih dari abad 13 M, dalam "Fashl al Maqal Fi Ma Baina al Hikmati was Syariati min al Ittishal". Menurut dia, jika ada pertentangan antara keduanya, maka wahyu harus ditakwil. Tetapi, hal ini harus dilihat dengan cermat. Tidak semua pendapat akal manusia dengan sendirinya sah. Hanya pendapat yang dalam istilah Ibn Taymiyah disebut "sharih", pendapat yang dilandasi dengan argumen yang kokoh, dan bukan sekedar memperturutkan hawa nafsu belaka, yang dapat dipertimbangkan.

Apa pendapat yang "sharih" itu? Ibn Rushd sendiri tidak menetapkan suatu ancar-ancar. Bagi saya, ancar-ancar itu tidak ketat, kaku, sebab pada akhirnya yang menentukan sebuah pendapat masuk akal dan tidak adalah kalangan cerdik pandai sendiri. Ibn Rushd sendiri sudah mengatakan dalam "Bidayat al Mujtahid" bahwa "al nushush mutanahiyah wa al waqai' ghairu mutanahiyah", teks-teks agama dan wahyu terbatas jumlahnya, sementara situasi sosial terus berubah. Bagaimana mungkin, kata Ibn Rusdh, sesuatu yang terbatas akan mengatasi yang tak terbatas. Di situlah akal manusia dan kebebasan berpikir diperlukan.

Tentang masalah "haq" dan "bathil", jelas hal itu ada. Yang menjadi soal adalah orang-orang yang sejenis dengan anda yang mudah "membathilkan" pandangan orang-orang yang berbeda. Anda menyebut JIL bathil? Atas dasar apa? Atas dasar kutipan ayat dan hadis yang berhamburan dengan seenaknya itu? Apakah kalau sudah mengutip ayat lalu selesai? Bukankah ayat bisa ditafsirkan macam-macam.

Ambil contoh ayat berikut ini. Ada ayat yang berbunyi, "La tudrikuhul abshar wa huwa yudrikul abshar wa huwal lathiful khabir". Ayat itu, kira-kira, isinya adalah bahwa Tuhan itu begitu lembut sehingga tak bisa dilihat oleh mata. Oleh karena itu, manusia tak akan bisa melihat Tuhan, meskipun di sorga. Atas dasar ayat inilah kaum Mu'tazilah menolak kemungkinan manusia melihat Tuhan di sorga.

Tetapi ada ayat lain, "Wujuhun yauma-idzin nadhirah, ila rabbiha nadlirah". Ayat itu kira-kira isinya adalah bahwa orang-orang yang beriman, di sorga nanti, akan melihat Tuhan. Atas dasar inilah kaum Asyariyyah berpendapat bahwa manusia mungkin melihat Tuhan di sorga.

Bagaimana anda mendamaikan antara kedua ayat itu. Kaum Mu'tazilah pakai ayat. Kaum Asyariyah pakai ayat. Mana yang benar.

Intinya, belum tentu kalau anda memakai ayat dan hadis dengan sendirinya anda sudah bisa menyudahi diskusi dan menuduh yang lain salah, sesat, bathil, murtad, kafir, dst.

Saya mengakui adanya yang "haq" dan yang "bathil". Tetapi saya, sebagai manusia, mempunyai pengetahuan yang terbatas, dan saya tak layak dengan begitu mudah menyalahkan dan membathilkan pendapat lain. Yang saya lakukan hanyalah mengkritik, tetapi saya tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa pendapat lawan saya bathil, kecuali jika pendapat itu jelas-jelas melawan akal sehat. Kalau ada orang berpendapat bahwa membunuh adalah halal, jelas itu batal, dari sudut pandang apapun. Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa cara beribadah orang Kristen dan Hindu adalah batal.

Dalam menghukumi sesutau "bathal" atau "haq", kita harus memakai dua instrumen: wahyu dan akal. Tidak bisa hanya dengan wahyu. Oleh karena itu, saya keberatan sekali dengan tindakan ceroboh para kaum fundamentalis yang mengobral ayat dan hadis, tetapi mengabaikan penalaran akal sehat.

Ala kulli hal, apa yang saya tulis ini belum tentu benar. Sebab hanya Allah lah yang tahu mana yang benar mana yang salah. Kita hanya berusaha untuk benar.

Ulil

Date:Wed, 22 Dec 2004 17:47:45 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:akal-sehat
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Membaca email anda yg lalu, kesan yg saya tangkap adalah uraian anda lebih banyak merupakan curahan perasaan dan emosi yg campur-aduk (kesal-muak-sinis-kaget-bingung jadi satu). Saya mengerti perasaan anda dan saya turut prihatin dg kekesalan dan kebingungan anda. Namun upaya saya utk sedikit menjernihkan dan menenangkan arus pemikiran kita agak terhambat dg curahan pemikiran (dan emosi) anda yg cukup deras. Barangkali memang begitu cara berpikir dan model diskusi anda dan komunitas anda di utan kayu. Hanya saja saya tak ingin ber-su'u zhann dengan mengatakan bahwa itu salah satu cara anda mengacaukan konsentrasi orang yg ingin berpikir lurus-lurus saja.

Tapi tak apalah, mari kita kembali mengurai benang kusut ketimbang berlarut-larut dlm emosi dan ratapan thd ummat Islam yg memang (saat ini) sedang centang-prenang. Benang-merah uraian kita masih seputar "kebebasan berpikir" dlm kaitannya dg haq & bathil, benar & salah, lurus & sesat.

Ada sedikit kemajuan, karena sepertinya anda sudah mengakui adanya jalan beragama yg sesat dan bathil dg pernyataan anda: ".... praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar". Meskipun anda belum berani (atau masih malu) menggunakan kata "sesat" di situ, tapi maksudnya kurang lebih sama; karena jika semua agama-agama besar adalah "jalan yg benar" (menurut anda) berarti apa yg "ditolak" oleh mereka adalah "jalan yg salah". Salah jalan = sesat. Alaisa kadzalik?

Nah, satu jalinan benang kusut telah berhasil kita tarik simpulnya yaitu memang ada jalan yg benar dan ada jalan yang sesat atau "salah jalan" (bila anda tidak tega menggunakan kata "sesat"). Sayangnya, kriteria benar dan sesatnya suatu jalan beragama anda serahkan begitu saja (tanpa jelas dalil dan argumennya) pada dua hal yaitu "akal-sehat" dan "nilai-nilai universal" yaitu nilai-nilai yg terdapat dlm semua agama. Di sini pemikiran kita saling kusut lagi. Mari kita coba uraikan jalinan benang kusut ini dengan menarik suatu titik-temu yg kita sepakati bersama.

Dalam beberapa bagian tulisan anda dalam email-email yg terdahulu anda telah memberikan suatu kesimpulan yg sangat berharga ttg "aqidah" kaum liberal yaitu bahwa "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Kalau memang demikian pengakuan dan keyakinan anda, bagaimana kalau kita katakan saja (karena di titik ini pikiran kita sepakat) bahwa:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Anda setuju dengan pernyataan di atas?

Wassalam,
Yusuf

Date:Thu, 23 Dec 2004 09:26:54 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: akal-sehat
To:"yusuf anshar"

Salam,
Dari mana anda menyimpulkan sejak awal bahwa dalam perspektif Islam liberal tidak ada yang "salah" dan "benar"? Tidak ada "haq" dan "batil"?

Sudah tentu hal itu ada. Yang membedakan anda dengan kaum Muslim liberal seperti saya adalah batasan mengenai dua istilah itu.

Aqidah kami adalah: Islam bukan satu-satunya agama yang benar, dan bukan pula paling benar. Maksud saya "Islam" sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kami memandang bahwa kebenaran tersebar dalam semua agama. Oleh karena itu, kami tidak akan memandang agama lain sebagai bathil.

Ada standar universal tentang kebathilan. Hal itu tampak dalam hal-hal yang baik secara wahyu atau akal sehat dianggap batal, seperti tindakan kejahatan yang terkandung dalam "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement).

Belum tentu hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan yang secara harafiah tertera dalam Quran adalah batil. Misalnya, hukuman penjara bagi pencurian yang menurut fiqh sudah memenuhi syarat untuk dikenai hukum potong tangan.

Kenapa demikian? Sebab, dalam kerangka bepikir kami, tidak semua hal yang secara harafiah tercantum dalam Qur'an mesti kita ikuti secara harafiah pula. Kenapa demikian, kita diskusi di lain kesempatan (kalau saya ada waktu).

Sekarang saya akan menanggapi pernyataan anda di bawah ini:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Apa yang anda maksudkan dengan "jalan agama"? Apakah jalan itu menyangkut ibadah, mu'amalah, akhlaq, adab, atau apa? Sebab agama memiliki dimensi yang kompleks. Di level mana anda mau berbicara?

Apa yang anda maksudkan dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan"? Bisakah anda menggunakan istilah yang jauh lebih standar dalam keilmuan Islam? Sebab istilah "kriteria Tuhan" sama sekali tidak jelas.

Saya tak akan menjawab pertanyaan anda ini kalau anda tidak menjelaskan masalah itu dulu.

Ulil

Date:Thu, 23 Dec 2004 19:42:39 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:kriteria agama
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Saya cukup surprise mendengar pernyataan anda bahwa agama memiliki dimensi yang sangat kompleks. Tadinya saya menganggap kaum liberal mempersempit makna agama pada tataran moral saja. Syukurlah kalau begitu! Bila anda meminta saya memperjelas di level mana kata "agama" yang saya maksud dalam kalimat:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Maka saya katakan bahwa sebenarnya yg saya maksud adalah "agama" dlm arti yg seluas-luasnya (di semua lini kehidupan). Tapi agar diskusi kita tidak terlalu melebar sehingga bertele-tele (apalagi anda sedang sibuk, mungkin ikut seminar natal dsb) maka dalam diskusi kali ini saya membatasi pada level "aqidah" atau "kepercayaan" saja dulu.

Adapun yg saya maksud dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan" tidaklah terlalu muluk-muluk, anda tidak usah bingung. Persis seperti pengertian kriteria yg terdapat dalam kamus-kamus (kriteria = standar, ukuran, patokan, norma). Dalam kaitannya dengan Tuhan dan Agama berarti kepercayaan dan amalan apa saja dalam beragama yg harus dimiliki oleh seseorang untuk mendapatkan ridha Tuhan. Kalau anda meminta istilah yg lebih islami (ehm...) ya Rukun Iman dan Rukun Islam itu. Tapi saya kira seorang liberalis sejati macam anda lebih senang menggunakan istilah yg universal.

Nah, kalau kedua pengertian di atas kita gabung maka pernyataan tadi bisa diperjelas sebagai berikut:

"Tidak ada standar, ukuran, patokan dan norma yang terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu kepercayaan (aqidah) dalam agama selain standar, ukuran, patokan dan norma yang ditetapkan oleh Tuhan."

Sekali lagi: apakah anda setuju dengan pernyataan di atas? Kalau anda memang sedang super sibuk, cukup dijawab dengan dua huruf "YA" atau "NO".

Wassalam,
Yusuf

Date:Fri, 24 Dec 2004 06:23:30 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla"
Subject:Re: kriteria agama
To:"yusuf anshar"

Salam,
Jelaskan dulu, apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam masalah akidah.

Urusan akidah dalam Islam tidak sesimpel yang anda bayangkan. Pertengkaran pendapat luar biasa hebatnya. Banyak sekte timbul di sana. Masing-masing mendaku sebagai paling benar, paling sesuai dengan kriteria Tuhan.

Apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam akidah? Apa saja isinya?

Ulil

Date:Sun, 26 Dec 2004 18:37:04 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar"
Subject:kesimpulan dan saran
To: "Ulil Abshar-Abdalla"

Meskipun anda tidak menjawab dengan "ya" atau "no" tapi dari tema baru yg anda angkat dapat disimpulkan bahwa anda setuju dan memang tidak bisa tidak, anda mesti setuju dg pernyataan tsb. Karena pernyataan tsb adalah konsekuensi logis dari prinsip kaum liberal sendiri bahwa: "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Saya bertanya "setuju atau tidak" hanyalah utk mengingatkan dan menegaskan kembali aqidah dan aksioma tsb. Karena siapapun yg ditanya - asalkan dia tidak atheis - tentang siapa yg paling tahu (segala hal, apalagi ttg agama) apakah Tuhan atau manusia; pasti akan menjawab "Tuhan" tanpa perlu berpikir panjang lagi; meskipun diantara mereka sendiri masih sibuk berdebat ttg "Tuhan". Yah, di situlah anehnya manusia dan di situlah hebatnya Tuhan yg menciptakan manusia.

Di bawah ini saya urutkan dulu kemajuan dan kesimpulan yg telah kita capai dari diskusi ini:
1. Adanya jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama dan adanya jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama.
2. Tidak ada yang paling tahu ttg jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama selain Tuhan.

Bagaimana cara manusia mendapat ilmu Tuhan itu? Jawabannya ialah lewat Wahyu. Orang yang mendapat wahyu dari Allah disebut Nabi atau Rasul. Berhubung komunitas anda masih mengaku beragama Islam (paling tidak berlabel Islam), maka Wahyu yg dimaksud dlm pembicaraan kita ini tidak lain adalah wahyu terakhir (yakni al-Quran) yg diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir (yakni Muhammad saw).

Kalau demikian, berarti kesimpulan di atas kita tambah dengan kesimpulan ketiga sbb:

3. Untuk mengetahui jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama kita harus merujuk pada firman Allah dalam al-Quran dan sabda Rasul dalam al-Hadits.

Sekarang barulah kita memasuki medan pertarungan sesungguhnya antara semua golongan, sekte dan aliran yg mengaku diri Islam (termasuk JIL). Medan pertarungan itu adalah:

"Mana jalan beragama yg haq, benar, lurus dan mana jalan beragama yg bathil, salah, sesat menurut Allah dan Rasul-Nya (menurut al-Quran dan as-Sunnah)?"

Hal ini sesuai dengan - dan sudah mencakup - pertanyaan anda: bagaimana kriteria dan materi aqidah dalam Islam? Menurut anda, aqidah Islam tidak simpel, sengit dipertengkarkan hingga menimbulkan banyak sekte. Bagaimana ini?

Sebelumnya, ada dua prinsip dan fakta yg harus kita ingat:
1. Aqidah Islam (demikian pula aspek-aspek lain dlm Islam) adalah apa yg dikatakan oleh al-Quran dan as-Sunnah, bukan apa yg dikatakan oleh sekte-sekte ummat Islam.
2. Sekte-sekte tsb baru muncul jauh sepeninggal Nabi saw dan tidak kita dapati di zaman Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Mengapa di zaman Nabi belum muncul sekte-sekte? Penyebabnya ada dua:
1) Ketika itu wahyu masih turun dan penerima wahyu (yg punya otoritas utk menjelaskannya) yaitu Nabi masih hidup. Sehingga semua pertanyaan yg timbul seputar Islam akan dijawab langsung oleh "nara sumber kebenaran" yakni Allah lewat lisan Nabi-Nya.
2) Sikap para sahabat yg "sami'na wa atha'na" dan tidak suka bertanya yg tidak perlu. Hal-hal yg berkaitan dengan aqidah yg disampaikan oleh al-Quran dan al-Hadits langsung mereka imani dan yg berkaitan dengan amaliyah langsung mereka amalkan.

Perselisihan pendapat yg menjurus ke perpecahan mulai terjadi setelah lenyapnya faktor pertama di atas (Nabi wafat). Kemudian dari zaman ke zaman, perpecahan semakin menjadi-jadi hingga menimbulkan sekte-sekte, seiring dengan makin lunturnya "watak sahabat" (faktor kedua) di kalangan ummat Islam. Lemahnya iman, rendahnya ketaatan serta banyak bertanya dan berdebat merupakan pintu gerbang terbesar (dari sisi internal) bagi timbulnya sekte-sekte dlm Islam.

Adapun dari sisi eksternal, masuknya filsafat dlm tubuh ummat Islam (disamping faktor politik) merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi maraknya sekte-sekte itu. Mengapa demikian? Pekerjaan filsafat hanya dua, bertanya dan berdebat, berdebat dan bertanya, tak putus-putusnya bagaikan "lingkaran setan" (karena bila berhenti berarti tamatlah riwayat filsafat). Seandainya seluruh filsuf yg ada di dunia dibebankan utk menuntaskan satu permasalahan saja sebelum berpindah ke permasalahan selanjutnya, niscaya habis umur mereka dan habis umur dunia, sedang mereka masih sibuk berpikir ttg "apa itu berpikir?". (Rene Descartes yg sempat diduga mati bunuh-diri, terkenal dg ucapan hampanya cogito ergo sum = aku berpikir maka aku ada. Kalau benar ia bunuh-diri, mungkin saja ia ingin membuktikan kesimpulannya dan tidak ingin kesimpulannya itu dipertanyakan lagi). Apalagi utk memikirkan ttg "akal", alih-alih utk memikirkan ttg Sang Pencipta akal dan apa yg dimaui Tuhan. Manakala cara filsafat dipakai dlm beragama niscaya kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa selain kekufuran. Kenapa? Karena agama diturunkan bukan utk itu (dipertanyakan dan diperdebatkan). Agama diturunkan utk diimani dan diamalkan. (NB: filsafat dan turunannya sebetulnya berguna untuk membahas sains, bukan agama).

Bercermin dari kedua fakta dan faktor penyebabnya di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa utk mengetahui ajaran Allah dan Rasul-Nya yg benar, kita harus kembali ke masa awal Islam, melihat bagaimana para sahabat pada umumnya (utamanya as-sabiqun al-awwalun, khususnya al-khulafa' ar-rasyidun) mengimani dan mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah. Itulah Islam yg masih bersih dari distorsi dan kontaminasi sekte-sekte dan penafsiran-penafsiran yg menyimpang. Bukankah anda sendiri pernah berkata:

"Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan."
(Saya kutip tanpa perubahan, dari email anda tanggal 20 Desember 2004).

Memang para sahabat termasuk dlm perkataan anda "kita adalah manusia relatif". Tapi seperti yg saya kemukakan di atas, sikap para sahabat terhadap al-Quran dan al-Hadits tidak seperti kita. Para sahabat tidak suka bertanya dan berdebat, demikian pula tidak suka menakwil dan menafsirkan. Apa yg mereka terima dari Allah dan Rasul-Nya (al-Quran dan as-Sunnah) mereka sikapi dengan iman dan amal. Sehingga apa-apa yg mereka sepakati (ijma' para sahabat) bukanlah hasil penafsiran dan pemahaman pribadi mereka melainkan hasil dari sikap mengimani dan mengamalkan apa-apa yg disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ijtihad baru mereka lakukan manakala menemukan hal-hal baru yg tidak mereka dapati (secara eksplisit) dalam al-Quran dan as-Sunnah, itupun dengan cara yg sangat hati-hati dan tetap berlandaskan aqidah dan kaidah yg mereka dapati dlm al-Quran dan as-Sunnah.

Dari uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan keempat yg merupakan hasil akhir dari diskusi kita yaitu:
4. Jalan beragama yg haq, benar, lurus menurut Allah dan Rasul-Nya adalah jalan beragama sebagaimana yg telah disepakati (ijma') oleh para sahabat Rasulullah saw sedang jalan beragama yg bathil, salah, sesat adalah jalan beragama yg bertentangan dengan kesepakatan (ijma') para sahabat Rasulullah saw.

Keempat kesimpulan di atas - kalau anda menelaah baik2 diskusi kita dari awal hingga kini - pada dasarnya disarikan dari prinsip2 atau pernyataan2 anda sendiri. Jadi saya hanya mencoba memetakan kembali prinsip2 anda dalam bingkai Islam yg terlepas, sementara anda sendiri tidak mau melepaskan label "islam" dari nama jaringan anda (entah karena pertimbangan strategis duniawi ataukah ukhrawi; Allahu A'lamu).

Sekarang mari kita introspeksi. Adakah diantara para sahabat yg tidak menganggap kafir orang yg mempertuhankan Yesus Kristus? Adakah diantara al-khulafa' ar-rasyidun yg mengkafirkan sesama mereka sebagaimana Syi'ah yg mengkafirkan Abubakar dan Umar? Adakah diantara para sahabat yg menghalalkan wanita muslimah menikah dengan pria non-muslim? Bagaimana dengan komunitas anda?

Benang dan jaring kusut JIL telah saya uraikan sehingga terpisahlah tali Islam dari tali liberal dengan empat simpul di atas. Kini terpulang kepada anda, mau memegang tali yang mana. "Al-haqqu min rabbika faman sya-a falyu'min wa man sya-a falyakfur". Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberikan saran dan imbauan berikut:

1. Bila anda mau berpegang dengan keempat asas di atas, berarti anda harus menanggalkan pemikiran liberal anda yg bertentangan dengan ijma' atau kesepakatan kaum muslimin. Andaikata itu terjadi, saya menyarankan agar anda mengganti nama JIL menjadi JMP (Jaringan Muslim Progresif) misalnya. Seorang muslim yg progresif (berpikiran maju) tidak mesti menanggalkan aqidah dan qaidah keislaman mereka. Anda bisa membahas berbagai isu-isu aktual seputar ummat Islam dengan jujur, terbuka dan kritis tanpa perlu melanggar ajaran Islam.
2. Bila anda tidak mau melepaskan pemikiran liberal anda, maka anda harus melepaskan label "Islam" dari nama komunitas anda; misalnya menjadi JUL (Jaringan Ummat Liberal).
3. Bila anda tidak mengindahkan salah satu dari kedua saran di atas, berarti anda tetap berpegang dengan tali liberal yg kufur dan melilitkannya dengan tali Islam sehingga menghasilkan pemikiran yg kusut dan sesat lagi menyesatkan banyak kaum muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Wassalam,
Yusuf

Diskusi ini berakhir sampai di sini, ditandai dengan tidak dibalasnya email terakhir Yusuf Anshar. Sebelum mempublikasikan diskusi ini di internet, Yusuf Asnhar mengirim email pemberitahuan terlebih dahulu kepada Ulil, tapi email itu tidak juga dibalas.

Baca selengkapnya..

Darul Islam dan Darul Kufur


Berikut adalah artikel dari Majalah Al Furqan, Gresik, Edisi 9, Tahun IV, 2005, halaman 33 – 34. Pada kesempatan lain, insya Allah akan saya diskusikan.

Para ulama' ahlus sunnah membagi suatu negeri menjadi 2 macam yaitu Darul Islam dan Darul Kufur, namun mereka berbeda pendapat tentang indikasi yang dijadikan patokan dalam menghukumi suatu negeri apakah Darul Islam atau Darul Kufur.

Salah satu pendapat yang kuat yang menjadi indikator bahwa suatu negeri merupakan Darul Islam adalah amalan – amalan dan syi'ar – syi'ar Islam yang tampak pada penduduk negeri tersebut seperti adzan, shalat 5 waktu, shalat Jum'at, Shalat 'Ied dan lain sebagainya.

Pendapat tersebut diambil berdasarkan hadits berikut:

Dari Anas bin Malik radhiyallaHu 'anHu, ia berkata, "Kaana Rasulullah yaghiiru idzaa thala'al fajru wa kaana yastami'ul adzaana fain sami'a adzaanan amsika wa ilaa aghaar" yang artinya "Adalah Rasulullah jika hendak menyerang daerah musuh ketika terbit fajar. Beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar adzan maka beliau menahan diri, dan jika tidak mendengar maka beliau menyerang" (HR. Bukhari no. 610 dan Muslim no. 1365)

Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata, "Hadits ini menunjukan bahwa adzan menahan serangan kaum muslimin kepada penduduk negeri daerah tersebut, karena adzan tersebut merupakan dalil atas keislaman mereka" (Syarh an Nawawi pada Shahih Muslim 4/84)

Al Imam Qurthuby berkata, "Adzan adalah tanda yang membedakan antara Darul Islam dan Darul Kufur" (Al Jami' Liahkamil Qur'an 6/225)

Az Zaqarny berkata, "Adzan adalah syi'ar Islam dan termasuk tanda yang membedakan Darul Islam dan Darul Kufur" (Syarh Zarqany atas Muwatha' 1/215)

Baca selengkapnya..

Saturday, May 19, 2007

Misteri Hidup Nomor Dua



Ada tiga misteri kehidupan:
1. Lahir
2. Jodoh
3. Mati

Istilah yang paling tepat untuk menggambarkan masalah jodoh diberikan oleh FS, "it's complicated". Aku dah nulis banyak di blog ini, pada judul "Pasar Jodoh", tentang efek informasi yang tidak lengkap kepada sulitnya mendapatkan jodoh.

Jodoh sudah diatur Alloh s.w.t. Tidak ada yang membantah pernyataan tersebut. Bahkan segala peristiwa di alam semesta ini telah tertulis di Lauh al-Mahfudz sebelum penciptaannya.

Aq tidak mau lagi berlama-lama berkubang dalam wacana agama, filosofis, atau ekonomi tentang persoalan jodoh ini. Mendapatkan jodoh bukan ilmu, tetapi seni. Tips dan trik cukup membantu, tetapi selalu ingat bahwa manusia banyak ragamnya. Tidak ada trik yang berlaku untuk semua orang.

Pilihan akan jodoh semakin sempit kalau cuma mengandalkan orang yang sudah dikenal. Aq jadi ingat strategi direct selling, bahwa keberhasilan itu tidak akan datang kalau hanya mengandalkan dari orang-orang yang sudah dikenal saja, biasa disebut warm list. Kita harus berani melangkah ke cold list, yakni orang-orang yang belum kita kenal. Untuk mempermudah, sebaiknya cold list ini kita dapatkan referensinya dari warm list. Gampangnya adalah mereka yang temannya teman kita.

Banyak keraguan untuk mengambil jalan ini. Melibatkan orang lain dalam permasalahan privasi seperti ini bukan keputusan yang mudah. Membuat komitmen besar dengan orang yang belum lama kita kenal sungguh membawa banyak ketidakpastian. Sangat tidak nyaman! Namun jalan ini harus ditempuh bila ingin memperoleh kemudahan.

Tidak ada insurance atas risiko ketidakpastian yang kita hadapi dalam masalah jodoh ini. Satu-satunya insurance adalah dari Alloh s.w.t. Kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mantap dalam memilih, dan hati kita digerakkan oleh-Nya agar menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat. Makanya, sholat istikhoroh tu hampir wajib selama kita dalam proses pencarian jodoh ini.

Baca selengkapnya..